Cerita MOP Papua, Tertawa Sampe Bodo


Pace sedang berkunjung ke kota Jayapura, mengunjungi dong pu anak yang sudah lama menetap disana.

Tiba di pelabuhan, pace disambut anak beserta menantu dan cucunya. Langsung diajaklah pace berkeliling kota naik OTO (mobil atau kendaraan sejenis). Pace terpukau melihat gedung, kendaraan lalu-lalang, pusat perbelanjaan dan semua hal yang tidak ada di kampungnya.

“Tuhangalaa, Jayapura memaaang. Rumah-rumah besar baru tinggi e, itu dorang keluarga besarka?”

“Itu bukan rumah pace, itu Mall. Tempat dorang baku jual-beli”

OTO yang dikendarai melewati sebuah polisi tidur. Karena asyik mengobrol, sopir lupa melambatkan laju kendaraan sehingga seluruh penumpang terpental ke atas. Terutama pace yang heran dan kaget dengan kejadian itu.

“Jjjiii…. kenapa e? ko lindas sesuatu ka?”

“Aaahh, itu polisi tidur saja, trapapa”

“Jjjiiii, kenapa tidur di jalan? Eh anak, kasih bangun sudah mungkin dia mabo”.

 * * *
Salah satu dari sekian banyak cerita lucu khususnya yang masih bisa saya ingat ketika berkunjung ke Papua, tepatnya saat berkumpul bersama masyarakat lokal. Berbagi cerita atau kejadian-kejadian lucu di kalangan masyarakat Maluku, Papua dan sekitarnya biasa disebut mop.

Menunggu MOP Papua di Podena, Kabupaten Sarmi Papua
Siap tertawa oleh MOP Papua ketika berkumpul bersama warga di distrik Podena, Kabupaten Sarmi

Singkat cerita di tahun 2015 akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di bumi Cendrewasih itu, dalam rangka mengikuti sebuah penelitian dari salah satu lembaga negara. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat lokal sering dilibatkan sebagai penunjuk jalan, tenaga lokal bahkan penyemangat dengan humor-humor khasnya.

Walau berperangai seram, tapi sejatinya mereka adalah orang berkarakter periang dan lugu. Tak ayal memang banyak peristiwa dari keluguan orang Papua yang berbuah menjadi mop, seperti kisah di awal tulisan ini.

Pandangan saya pastilah objektif dari kunjungan hanya di daerah pesisir saja. Saya tidak berani berpandangan tentang masyarakat di pegunungan, walau sudah banyak cerita tentang kehidupan dan karakter masyarakatnya.

Di tahun 2017, sangat bersyukur karena bisa menjejakkan kaki lagi di pulau tersebut namun beda provinsi yaitu Papua Barat.

Saya kesana masih dalam hal yang sama dengan 2 tahun sebelumnya. Sebelum pergi ke lapangan, ada kegiatan kelas yang harus diikuti. Kelas tak pernah sepi dengan hiburan dari kawan-kawan Papua Barat untuk maju dan menceritakan Mop.

Berikut satu moment yang sempat saya rekam:


* * *
Ada sebuah kisah tentang keluguan orang Wamena yang baru saja membeli OTO atau mobil. Saking senangnya ia ajak kawannya untuk mencoba kendaraan tersebut.

Keasyikannya tersebut selesai ketika mobil kehabisan bahan bakar lalu berhenti. Pace yang punya mobil berujar kepada kawannya.

"Kawan, mari tong balik jalan ke rumah e. Ini mobil selesai sudah, pabrik hanya membuat sampai sini saja" Lalu mereka pun berjalan pulang.

Saya kurang tahu pasti, kisah tersebut hanya karangan atau nyata.Masyarakat pesisir memandang salah satunya orang Wamena, adalah orang Papua paling lugu. Saya tidak bermaksud rasis sama sekali, hanya bersyukur betapa beranekaragam dan uniknya negeri ini. Tidak hanya biodiversitasnya saja.

Mari lanjut ke cerita selanjutnya.
* * * 

MAKANAN ITU BERKAH

Silas baru saja pulang dari sekolah siang hari dan terlihat lesu karena lapar. Langsung ia menuju dapur mencari mamanya.

“Mama sa lapar e”

“Hei anak, ko ganti baju cuci tangan baru ko makan!”

“Baik mama” Langsung Silas bergegas mengikuti perintah mama, begitu selesai ia langsung kembali menuju dapur.

“Mama ada masak apa e?”

“Pace belum kasih mama uang, jadi ko makan seadanya dolo. Itu makanan mama taruh di meja makan!”

“Adoh mama, sayur daun papaya lagi!?”

“Eeehh anak jang ko mengeluh pada makanan, tidak baik. Bersyukur baru.”

“Tapi mama, tadi malam sayur daun papaya kemarin juga. Sa bosan”

“Cukimai, anak kurang ajar!!! Makan sudah!!! Ada makanan itu berkah!”

“Ah mama, trada berkah yang pahit”

* * *
Toleransi antar umat beragama sangat baik. Contohnya jika ada hari raya Natal, teman atau kerabat yang beragama lain akan di undang untuk hadir dengan jamuan yang disesuaikan. Begitu sebaliknya jika umat muslim merayakan hari raya Idhul Fitri, teman dan kerabat yang beragama nasrani atau lainnya akan datang berkunjung saling maaf memaafkan, serta makan bersama menu lebaran.

Ada suatu kisah tentang bapak pendeta dan bapak haji di suatu kampung. Mereka sedang berjalan pulang bersama seusai menghadiri rapat desa.

Rumah mereka satu arah yang sama dan harus menyeberang sebuah kali yang kedalamannya se-perut orang dewasa. Kebetulan jembatan sedang rusak dan mau tak mau mereka harus berbasah-basah melintas kali.

“Bapa, sa gendong sudah e”

“Ah tidak pak haji, sa saja yang gendong. Mari!”

“Eeee… Sa masih muda bapa, mari sudah!

“Sebentar pak haji, bukan masalah tong muda atau tua”

“Baru???”

“Apa kata dorang di kampung nanti, trada ceritanya Pendeta Naik Haji”.

* * *

Beberapa guyonannya terdengar cerdas, dan kadang malah membuat bingung jika kita tidak mengerti dialektiknya. Seperti kisah di bawah ini.

Tiba di rumah anaknya, tete (panggilan untuk kakek) bercengkerama dengan cucunya. Su lama pace tra bertemu jadi melepas kangen sambil bercerita di teras rumah.

“Tete, sa pijit kaki tete boleh? Pasti Tete capek to”

“Tuhaaaree, cucu tete baik sekali ee.”

“Kata pace, dulu tete sering merantau ka?”

“Iyo, itu sudah”

“Baru, tete pu kaki ini sudah injak tanah mana?”

“Adoooh, banyak”

“Sumatera sudah ka?”

“Sumatera tete su injak”

“Jawa?”

“Ah itu sering”

“Baru, Bali?”

“Bali sudah”

“Kalimantan?”

“Adooh, ko cerewet memang. Kalimantan juga sudah, Sulawesi, Ambon, sampeeee Flores sudah tete injak.”

“Baru yang belum pernah tete injak?”

“Yang tete belum pernah injak, batang ko pu leher!!!”


Orang Papua sering menyingkat kata dalam percakapannya sehari-hari. Contohnya, saya menjadi sa, coba menjadi co, emang penting menjadi epen, cukup penting toh menjadi cupen, hingga kalimat yang panjang pun juga disingkat.

Ada sebuah kisah tentang pace yang kebun lemon miliknya sering kecurian. Padahal pagar sudah mengelilingi kebun lemon tersebut. Hingga saat panen berikutnya, lemon miliknya masih saja dicuri orang.

Pace pun naik pitam lalu ia membuat papan peringatan untuk mencegah para pencuri masuk. Ia mencari papan di sekitar kebun, akhirnya ia hanya mendapatkan papan dengan panjang 60 cm dan lebar sekitar 30 cm.

Pace memasang papan tersebut tergantung di pintu masuk kebun miliknya. Selesai terpasang, ada orang Jawa lewat dan menyapa pace yang masih terlihat marah.

"Selamat sore pace, sedang buat apaka?"

"Sore mas, sa baru selesai pasang papan peringatan buat dorang pencuri cukimai"

"Ooohh, tapi pace tulis apa itu?"

"Ah itu, gara-gara sa bisa dapat papan pendek memang. Sa tulis singkat padat dan jelas DILAPETELEPETELELEPU"

"Artinya apa pace?"

"Ah itu dorang pasti tahu mas, artinya DILARANG PETIK LEMON, PETIK LEMON LEHER PUTUS!"

* * *
Susah sekali untuk mengubah mop menjadi sebuah tulisan. Mop akan 'pecah' ketika dibawakan langsung oleh orang Papua sendiri dengan logat, aksen, emosi, gerak tubuh  dan suasana mendukung lainnya.

Jangan lewatkan kesempatan anda untuk berkumpul dengan masyarakat lokal saat berkunjung ke Maluku, Papua dan sekitarnya. Cobalah untuk membawa sirih pinang, "cemilan" khas yang umumnya disukai. Anda akan cepat diterima dan segera mendengar orang-orang saling bertukar Mop yang bisa membuat tertawa sampeeeee bodo'.

Di Balik Paper: Catatan Pertama Cerek Kalung-besar Untuk Indonesia

Sudah cukup lama saya ingin menulis ulang paper saya di blog ini, terinspirasi tentu oleh guru saya kak Imam. Selain itu, siapa sih yang baca paper ilmiah? Lewat tulisan ini semoga melunakkan bahasa dan bahasan untuk kalangan yang lebih luas.

Sebelumnya burung Cerek Kalung-besar yang bernama ilmiah Charadrius hiaticula belum pernah tercatat di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. haha

Burung ini berkembang biak di Greenland dan Eurasia bagian utara, pada saat musim dingin kebanyakan populasinya akan bermigrasi ke daerah Afrika. Namun, sebagian populasi juga nyasar ke berbagai wilayah di Asia khususnya Asia Tenggara seperti Myanmar barat daya dan Thailand barat laut (Robson 2000), Vietnam (Pilgrim et al. 2009), Thai-Malay Peninsula (Wells 1999), Singapura (Wells 1999; Wang & Hails 2007).

Cerek Kalung Besar Charadrius hiaticula taken in Indonesia
Foto pertama Cerek Kalung-besar Charadrius hiaticula (tengah) untuk Indonesia. Copyright Shaim Basyari

Di pulau Kalimantan pernah tercatat, tapi bukan NKRI melainkan di Brunei Darusalam dan Kota Kinabalu, Sabah, Malaysia (Mann 2008). Bahkan burung ini tercatat hingga Australia (BirdLife Australia Rarities Committee 2016). Indonesia terlewatkan?

Jadi Ceritanya...

Hingga akhirnya pada 20 Oktober 2013 tiga orang selo menjumpainya di muara kali Progo, perbatasan kabupaten Bantul dan Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Saya, Shaim dan Wahab kala itu sedang mengamati burung pantai migran. Awalnya kami memperhatikan grup Cerek Jawa, Kedidi Leher-merah, Trinil Pembalik-batu dan Cerek Pasir-besar. Ada seekor yang menarik perhatian dengan ukurannya yang hampir sebesar Cerek Pasir-besar namun paruh lebih pendek dan alis mata putih tegas.

Saya yang membawa kamera enggan memotret dengan mengambil jarak yang dekat. Karena saya tahu diri dengan ukuran tubuh yang besar pasti akan gagal mendapatkan foto dalam jarak yang dekat.

Akhirnya Shaim lah yang menerima tugas mendekat dengan cara merayap bak biawak ke kawanan burung tersebut. Sementara saya dan  Wahab mengarahkan dari pinggir kali memakai teropong sambil berteriak layaknya tukang parkir.

Shaim sudah berada dalam jarak sekitar 10 meter dari burung Cerek misterius tersebut, dengan asumsi lensa prosumer perbesaran setara dengan lensa tele 800mm pastilah hasilnya akan close up. Sekitar setengah jam terlewati, lalu ia kembali ke arah pinggir. Saat itu juga kami melihat jepretannya dan bayangan hasil foto yang up pun runtuh seketika. Ternyata kamera tidak di zoom dengan maksimal, hanya 126 mm saja. Wooh jian ndlogok.



Namun kami coba zoom di display kamera tersebut, sembari melihat buku panduan yang kami bawa. Burung ini mirip dengan Cerek Kalung-kecil namun ukurannya lebih besar. Tetapi lebih kecil dengan Cerek Pasir-besar yang berada di sampingnya. Dibandingkan dengan Cerek Kalung-kecil, paruh burung ini pendek dan tebal; garis bulu dada lebih tebal, alis mata putih lebih panjang; kaki berwarna oranye dan tidak memiliki garis orbital mata. Entah kenapa kami optimis seketika bahwa itu Cerek Kalung-besar.

Sepulangnya langsung share temuan tersebut ke pakar yang fesbukan. Sampai diskusi mengenai jenis ini mencapai mufakat, well saatnya publikasi.

Lalu Kholil, Wahab dan mas Zul pada 01 Desember 2013 di lokasi yang sama mencatat 5 ekor jenis yang sama. Ketika Kholil mencoba mendekat untuk mengambil gambar, burung ini terbang sambal bersuara “tuu iit, tuu iit”, yang mirip dengan alarm call sesuai deskripsi dari Hayman et al. (1986) dan Robson (2000) yakni “too-li” dan “tooweep”. Saat burung ini terbang corak putih pada sayap terlihat.

Dengan tambahan informasi tersebut kami mulai membuat draft tulisan.

Hingga manuscript pertama selesai, saya langsung kirimkan ke jurnal KUKILA. Ada cita-cita pribadi kenapa saya memilih jurnal ini, sebuah alasan konyol jikalau saya mendapat temuan pertama untuk Indonesia akan saya terbitkan di Jurnal ornitologi milik Indonesia tapi kepala editor dan sebagian besar editornya asing. Piye menurutmu?


Tiga tahun lamanya proses penyusunan penulisan dan revisi di jurnal tersebut dengan reviewer salah satunya adalah kepala editornya langsung yang ndadak dan nyusu-nyusu untuk revisi. Singkatnya paper temuan Cerek Kalung-besar pertama untuk Indonesia masuk di jurnal tersebut di edisi ke 19 tahun 2016.

Paper bisa diunduh di sini


Sitasi

Wibowo, K.W., S. Basyari, W.F. Andono, A.Z. Abdullah & I. Kholil. 2016. First Indonesian Record of Common Ringed Plover Charadrius hiaticula. Kukila 19: 39-41.

Sumber Bacaan:

BirdLife Australia Rarities Committee. 2016. BirdLife Australia Rarity Committee. Available
from:
http://birdlife.org.au/conservation/science/rarities-committee (Accessed 13 April 2016).

Hayman, P.J., J. Marchant & T. Prater. 1986. Shorebirds: An Identification Guide to the Waders
of the World
. Hougton Mifflin Co., Boston.

MacKinnon, J. & K. Phillipps. 1993.
A Field Guide to the Birds of Borneo, Sumatra, Java and
Bali
. Oxford University Press Inc., New York.

Mann, C.F. 2008.
The Birds of Borneo. B.O.U. Checklist 23. British Ornithologists’ Union and
British Ornithologists’ Club, London.


Pengamat Burung Indonesia. 2014.
https://web.facebook.com/groups/PengamatBurungIndonesia.
Piersma, T.& P. Wiersma. 1996. Charadridae (Plovers). Pp. 384-443 in J. del Hoyo, A. Elliot & J.
Sargatal (eds).
Handbook of the Birds of the World. Vol. 3. Hoatzin to Auks. Lynx Edicions,
Barcelona.


Pilgrim, J.D., P. Bijlmakers, A. Crutchley, G. Crutchley, T. de Bruyn & A.W. Tordoff. 2009.
Common Ringed Plover
Charadrius hiaticula and Black-headed Bunting Emberiza
melanocephala
: new records for Vietnam. Forktail 25: 155-158.

Robson, C. 2000. A
Field Guide to the Birds of South-east Asia. New Holland, London.

Sukmantoro, W., M. Irham, W. Novarino, F. Hasudungan, N. Kemp & M. Muchtar. 2007.
Daftar
Burung Indonesia no. 2
.
Indonesian Ornithologist’s Union, Bogor.

Wang, L.K.& C.J. Hails. 2007. An annotated Checklist of the birds of Singapore.
The Raffles
Bulletin of Zoology
Suppl. 15: 1-179.

Wells, D.R. 1999.
The Birds of the Thai-Malay Peninsula, vol. 1, Non-Passerines. Academic
Press, London.




 

Tempat Makan Murah dan Daftar Pesawat di Terminal Domestik Bandara Juanda

Menunggu adalah suatu hal yang kadang bisa sangat membosankan, melelahkan hingga menjadi lapar. Apalagi menunggu di bandara untuk pesawat yang akan kita tumpangi. Delayed akan menambah kekesalan kita tentunya.

Kali ini saya ingin berbagi informasi mengenai tempat makan yang murah dan daftar pesawat di terminal 1 atau domestik bandara Juanda Surabaya. Terutama untuk para traveller atau backpacker yang akan ke bandara Juanda dengan dana bepergian serendah atau sehemat mungkin.

Kita tahu bahwa tempat makan di areal bandara terutama di teras gedung dan di dalam gedung cukup mahal, karena salah satu faktor pasti adalah bayar sewa tempat dan pajak yang tinggi.

Namun ada beberapa tempat makan di area bandara besar, yang harga makanannya murah. Terutama bandara Juanda yang secara administratif berada di kawasan kecamatan Sedati kabupaten Sidoarjo, namun terkenalnya malah Surabaya.

Tempat Makan Murah di Terminal 1 Bandara Juanda


Jika anda berada di terminal 1 berjalanlah ke arah barat ke pintu kedatangan terminal 1B.
Sesampainya disana, menyeberanglah ke area parkiran. Lalu belok kiri, dari sini akan terlihat tempat makan tersebut yang bernama “Kantin Domestik atau Kantin Juanda”.

Kantin Domestik atau Kantin Juanda di parkiran terminal 1 Bandara Juanda

Berikut peta lokasi, agar memudahkan anda.




 Keterangan Peta:
  • Icon warna pink adalah pintu kedatangan dan keberangkatan terminal 1A
  • Icon warna biru adalah pintu kedatangan dan keberangkatan terminal 1B
  • Icon sendok dan garpu warna kuning adalah Kantin Domestik
  • Icon bulan bintang adalah masjid terminal 1. 
  • Path biru adalah jalur menuju Kantin Domestik

Ada sekitar 3 tenant yang menyediakan makanan dengan menu cukup bervariasi, kebanyakan makanan khas Jawa Timur seperti rawon, soto, pecel, dan nasi campur. Harga makanannya berkisar mulai dari 13.000 – 15.000 rupiah. Menu minuman seperti air mineral, Teh, Kopi, minuman soda, dan aneka jenis minuman lain tersedia.
Fasilitas lain seperti tempat makan dalam dan luar ruangan, toilet gratis dan tempat untuk charge daya baterai handphone.
Suasana kantin domestik terminanl 1 bandara Juanda
Suasana kantin domestik terminanl 1 bandara Juanda

Beberapa minggu yang lalu saya ada kesempatan pergi kesana dan ingin membandingkan harga dengan membeli makanan di Kantin Domestik dan tempat makanan yang berada di teras gedung bandara.
Nah, ini photo struk pembelian saya:

Struk pembelian makan di tempat makan Bandara Juanda
Struk pembelian makan di tempat makan Bandara Juanda
Struk sebelah kiri adalah bukti pembayaran di Kantin Domestik, sedangkan yang sebelah kanan adalah bukti pembayaran di salah satu restoran di areal teras gedung bandara.

Mungkin bisa jadi pertimbangan ketika sedang disini.

Daftar Pesawat di Terminal Domestik Bandara Juanda

Merupakan bandara paling sibuk kedua setelah Bandara Soekarno-Hatta berdasarkan pergerakan pesawat dan penumpang dari dan menuju Surabaya. Ada dua terminal yang sudah beroperasi  untuk penerbangan domestik (T1) dan internasional (T2).

Di terminal 1 contohnya untuk pintu keberangkatan dan kedatangan dibagi menjadi dua sesuai maskapai pesawat karena untuk mengatur lalu-lintas penumpang yang sudah overload. Sekarang sedang di bangun Terminal 3 yang terletak di timur Terminal 1 berfungsi untuk mengurai kepadatan Terminal 1 dan akan mulai beroperasi pada tahun 2018.
Selangkapnya tentang sejarah dan lain sebagainya silahkan baca di sini.

Jika merasa kebingungan dengan daftar pesawat di pintu keberangkatan atau kedatangan berikut ini daftar pesawat di masing-masing pintu terminal 1.

1. Pintu Keberangkatan  dan Kedatangan Terminal 1A
  • Citilink
  • Airfast Indonesia
  • Batik Air (keberangakatan).
  • Lion Air
  • Wings Air
  • Batik Air
  • Sriwijaya Air
  • Nam Air
  • Trigana Air
  • Travira Air
  • Kalstar Air
  • Susi Air.
  • Batik Air (kedatangan).
Sekian dulu, jika bermanfaat silahkan di bagikan kepada teman atau saudara yang akan bepergian terutama yang akan menggunakan pesawat lewat Bandara Juanda.
Terima Kasih!
Disclaimer: Informasi daftar pesawat di terminal 1 bandara Juanda tahun 2017 dicari secara langsung dan dari beberapa sumber, pastikan anda mengkonfirmasi ulang lewat website resmi : https://www.juanda-airport.com/id

Contact Form

Name

Email *

Message *