Adopsi Sarang Burung di Jatimulyo: Memantau Sikatan Cacing di Habitat Aslinya

Adopsi Sarang Burung di Jatimulyo: Mengikuti Pemantauan Sikatan Cacing di Habitat Aslinya

Jatimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta – Mengamati burung di habitat aslinya selalu memberikan pengalaman menarik. Namun, bagaimana jika kita tidak hanya mengamati burung, tetapi juga ikut menyaksikan upaya masyarakat dalam melindungi tempat burung berkembang biak?

Sarang buatan bambu untuk program adopsi sarang burung
Sikatan cacing (Cyornis banyumas) jantan di sarang buatan


Kali ini saya berkesempatan mengunjungi Desa Jatimulyo, Kabupaten Kulon Progo, untuk melihat secara langsung program adopsi sarang burung yang dijalankan oleh masyarakat setempat. Salah satu jenis burung yang menjadi perhatian dalam kegiatan ini adalah Sikatan Cacing (Cyornis banyumas), atau yang oleh masyarakat lokal lebih dikenal dengan sebutan Sulingan.





Kegiatan ini bukan sekadar kesempatan untuk mengamati burung dari jarak dekat. Lebih dari itu, saya ingin melihat bagaimana sebuah program konservasi berbasis masyarakat dapat memberikan manfaat bagi kelestarian burung sekaligus meningkatkan perekonomian warga desa.


Mengenal Program Adopsi Sarang Burung di Jatimulyo

Desa Jatimulyo dikenal sebagai salah satu tujuan menarik bagi pengamat burung dan pecinta alam di kawasan Yogyakarta. Desa yang berada di kawasan perbukitan Menoreh ini memiliki lingkungan yang mendukung kehidupan berbagai jenis burung, termasuk beberapa jenis burung endemik dan burung yang menjadi target konservasi.


Salah satu upaya pelestarian yang menarik perhatian saya adalah program adopsi sarang burung yang melibatkan masyarakat setempat melalui kelompok konservasi.


Prinsip program ini cukup sederhana. Warga yang menemukan sarang burung di lingkungan sekitar akan melaporkannya kepada kelompok pengelola. Setelah melalui proses pemeriksaan dan pendataan, sarang tersebut dapat ditawarkan kepada calon pengadopsi yang ingin berkontribusi dalam upaya konservasi.


Pondok pengamatan burung di habitat alami
Di dalam pondok pemantauan adopsi sarang Sikatan cacing


Dengan cara ini, keberadaan sarang burung yang sebelumnya berpotensi menjadi sasaran perburuan justru memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat apabila dilindungi.


Program tersebut menjadi salah satu pendekatan untuk mengubah cara pandang masyarakat. Burung liar tidak lagi hanya dipandang sebagai satwa yang bisa ditangkap atau diperdagangkan, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan alam yang dapat memberikan manfaat ekonomi melalui kegiatan konservasi dan wisata alam.


Memantau Sarang Sikatan Cacing atau Sulingan

Dalam kunjungan kali ini, saya berkesempatan mengikuti pemantauan sarang Sikatan Cacing yang berada di sebuah sarang buatan dari bambu.


Sarang tersebut sebelumnya telah berhasil ditempati oleh indukan Sikatan Cacing. Untuk memantau aktivitas burung tanpa terlalu banyak mengganggu, tersedia sebuah pondok pengamatan atau hide yang digunakan oleh pengamat dan fotografer burung.


Dari tempat persembunyian tersebut, kami dapat mengamati aktivitas indukan yang keluar masuk sarang untuk memberi makan anak-anaknya.


Salah satu hal menarik adalah bagaimana indukan tidak hanya bertugas mencari makanan, tetapi juga menjaga kebersihan sarang. Setelah memberikan makanan kepada anaknya, indukan terlihat membersihkan kotoran yang dihasilkan anakan.


Induk burung betina tledekan atau Sikatan cacing membawa makan untuk anaknya
Induk burung betina tledekan atau Sikatan cacing membawa makan untuk anaknya


Perilaku ini merupakan bagian penting dari perawatan anak burung. Kebersihan sarang membantu mengurangi penumpukan kotoran yang dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan dan parasit.


Selama pengamatan, burung beberapa kali datang membawa makanan. Jarak antara pondok pengamatan dan sarang yang hanya beberapa meter memungkinkan kami melihat aktivitas tersebut dengan cukup jelas.

Namun, pengamatan burung di sekitar sarang membutuhkan kesabaran. Kami harus tetap tenang, meminimalkan gerakan, dan menghindari aktivitas yang berpotensi mengganggu indukan.


Bagi saya, melihat langsung bagaimana indukan merawat anak-anaknya merupakan pengalaman yang jauh lebih menarik daripada sekadar mendapatkan foto burung.


Bagaimana Sistem Adopsi Sarang Burung Bekerja?

Salah satu hal yang ingin saya bagikan dari kunjungan ini adalah bagaimana mekanisme program adopsi sarang burung di Jatimulyo.


Secara umum, prosesnya melibatkan beberapa tahapan:

1. Warga menemukan sarang burung

Masyarakat yang menemukan sarang burung di sekitar lingkungan tempat tinggalnya dapat melaporkannya kepada kelompok konservasi. Warga yang menemukan sarang juga mendapatkan apresiasi atau insentif dari kelompok pengelola.

2. Sarang diperiksa dan didata

Setelah ditemukan, sarang akan diperiksa untuk mengetahui jenis burung, kondisi sarang, serta tingkat prioritas konservasinya.

3. Sarang ditawarkan kepada calon pengadopsi

Informasi mengenai sarang yang tersedia kemudian diumumkan kepada calon pengadopsi melalui kanal komunikasi kelompok, termasuk media sosial.

4. Pengadopsi berkontribusi dalam pembiayaan pemantauan

Biaya adopsi dapat berbeda antara satu jenis burung dengan jenis lainnya. Hal ini berkaitan dengan tingkat prioritas konservasi dan kebutuhan pemantauan.

Jenis burung yang memiliki ancaman lebih tinggi membutuhkan upaya perlindungan dan pemantauan yang lebih intensif. Salah satu contohnya adalah Sikatan Cacing yang menghadapi ancaman perburuan untuk perdagangan burung.

5. Pemantauan sarang secara berkala

Setelah proses adopsi, tim pemantau akan melakukan pengawasan terhadap perkembangan sarang. Intensitas pemantauan disesuaikan dengan tingkat prioritas dan kondisi masing-masing sarang.

Dengan adanya sistem ini, masyarakat memiliki peran langsung dalam menjaga keberhasilan reproduksi burung di habitatnya.


Apa yang Didapatkan oleh Pengadopsi Sarang?

Program adopsi sarang burung tidak hanya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mendukung konservasi. Para pengadopsi juga mendapatkan informasi mengenai perkembangan sarang yang mereka dukung.


Laporan pemantauan diberikan secara berkala, sehingga pengadopsi dapat mengetahui aktivitas indukan, perkembangan anakan, hingga kondisi sarang.


Selain laporan, pengadopsi juga berkesempatan mendapatkan dokumentasi berupa foto dan video aktivitas burung di sarangnya.


Dokumentasi tersebut dapat digunakan untuk dibagikan melalui media sosial dengan tujuan memperkenalkan program konservasi kepada lebih banyak orang.


Harapannya, semakin banyak orang yang mengetahui program ini dan tertarik untuk ikut berkontribusi dalam melindungi burung-burung liar.


Mengapa Program Adopsi Sarang Penting untuk Konservasi Burung?

Perburuan dan perdagangan burung liar masih menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian berbagai jenis burung di Indonesia.


Bagi jenis burung yang memiliki nilai jual tinggi di pasar burung, keberadaan sarang dan anak burung sering kali menjadi sasaran pengambilan dari alam.


Dalam kondisi seperti ini, perlindungan habitat saja terkadang belum cukup. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat yang hidup berdampingan dengan satwa tersebut.


Program adopsi sarang merupakan salah satu pendekatan konservasi yang mencoba menjawab persoalan tersebut.


Melalui program ini, masyarakat mendapatkan manfaat ekonomi dari aktivitas perlindungan sarang, bukan dari pengambilan burungnya.


Selain itu, kegiatan pemantauan juga membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai kehidupan burung, perilaku reproduksi, serta pentingnya menjaga habitat alami.


Menurut saya, hal yang paling menarik dari pendekatan ini adalah adanya hubungan langsung antara konservasi dan kesejahteraan masyarakat.


Burung yang berhasil berkembang biak di alam bukan hanya menjadi kebanggaan bagi para pengamat burung, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat yang ikut menjaganya.


Jatimulyo: Tidak Harus Menjadi Birdwatcher untuk Menikmati Burung

Ada satu hal yang ingin saya tekankan. Untuk menikmati kekayaan burung di Jatimulyo, kita tidak harus menjadi pengamat burung atau fotografer profesional.


Desa ini juga menawarkan pengalaman wisata alam yang dapat dinikmati oleh pengunjung umum.


Lanskap desa ramah burung Jatimulyo dari atas
Lanskap desa ramah burung Jatimulyo dari atas

Kita bisa berjalan-jalan menyusuri lingkungan desa, menikmati suasana pedesaan, menginap di rumah warga, mencicipi makanan khas setempat, serta mengunjungi berbagai lokasi wisata alam yang tersedia.


Bagi yang tertarik dengan dunia burung, Jatimulyo juga menawarkan pengalaman birdwatching atau pengamatan burung di habitat aslinya.


Kita dapat belajar mengenali berbagai jenis burung, mendengarkan suara panggilannya, dan jika beruntung, mengamati perilaku menarik yang jarang terlihat dalam kehidupan sehari-hari.


Pengunjung yang ingin mendukung konservasi juga dapat mencari informasi mengenai program adopsi sarang burung melalui kelompok pengelola setempat.


Konservasi Burung Harus Menyebar, Bukan Berhenti di Satu Desa

Ada satu harapan menarik yang disampaikan dalam kegiatan ini.


Keberhasilan program konservasi di Jatimulyo diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi satu desa. Ke depannya, pendekatan serupa diharapkan dapat berkembang ke desa-desa lain di sekitarnya.


Sebab, perlindungan burung tidak bisa berhenti pada batas administrasi sebuah desa.


Jika satu desa berhasil melindungi sarang burung, tetapi burung yang sama masih diburu di desa tetangganya, tentu upaya konservasi belum sepenuhnya berhasil.


Dibutuhkan kesadaran bersama dan keterlibatan lebih banyak masyarakat agar perlindungan burung dapat dilakukan dalam skala yang lebih luas.


Bagi saya, program seperti ini menunjukkan bahwa konservasi tidak selalu harus dimulai dari proyek besar atau lembaga dengan pendanaan yang besar. Keterlibatan masyarakat lokal, kesadaran menjaga alam, dan sistem insentif yang tepat dapat menjadi langkah awal yang sangat berarti.


Penutup

Mengikuti pemantauan sarang Sikatan Cacing di Jatimulyo memberikan pengalaman dan perspektif baru bagi saya mengenai konservasi burung di Indonesia.


Selama ini, kita mungkin lebih sering membicarakan konservasi dari sisi perlindungan habitat, penelitian, atau penegakan hukum terhadap perdagangan satwa liar. Padahal, ada pendekatan lain yang tidak kalah penting, yaitu melibatkan masyarakat secara langsung dalam menjaga keberhasilan reproduksi burung di alam.


Program adopsi sarang burung di Jatimulyo merupakan salah satu contoh bagaimana kepedulian terhadap burung dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.


Semoga inisiatif seperti ini terus berkembang dan menginspirasi lebih banyak desa di Indonesia untuk melindungi kekayaan burung yang hidup di sekitarnya.


Karena pada akhirnya, menjaga burung bukan hanya tentang melindungi satu atau dua jenis dari kepunahan, tetapi juga menjaga ekosistem dan kehidupan yang ada di dalamnya.

8 Fakta Menarik Burung Anis sisik atau Anis macan

Hallo sobat manuk, tulisan kali ini akan membahas mengenai salah satu jenis burung penghuni lantai hutan Sumatra, Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa. Burung ini bernama Anis sisik atau dikenal juga dengan Anis macan atau Punglor macan.


Pada tulisan kali ini, kita akan membahas mengenai klasifikasi, ciri-ciri, persebaran, habitat, perilaku, makanan dan suara anis sisik atau anis macan yang pernah saya jumpai di alam dan dari berbagai sumber tentunya.


Burung Anis sisik / Anis macan
Burung Anis sisik Zoothera aurea. dok pribadi

Sebelumnya saya juga sudah pernah menulis mengenai jenis burung anis yang ada di Indonesia, namanya anis merah atau punglor. Teman-teman sekalian bisa cek di link berikut:


7 Fakta Unik Burung Anis Merah atau Punglor

Di bawah ini juga tersedia daftar isi untuk memudahkan teman-teman memilih topik bahasan anis sisik yang ingin diketahui



1. Klasifikasi Anis sisik

Merupakan salah satu dari 21 jenis burung anis yang ada di Indonesia. Taksonomi dari burung ini membingungkan, beberapa pakar memasukkan jenis yang ada di Indonesia ke dalam jenis Zoothera dauma. Ada pula yang menganggap sebagai Z. horsfieldi yang endemik Indonesia.


Nah, saya mengikuti taksonomi dari buku panduan lapangan burung-burung di Indonesia karya teman-teman Burungnesia. Nama ilmiah burung ini adalah Z. aurea atau dalam bahasa inggris disebut White's Thrush.


Berikut klasifikasi lengkapnya:


Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Aves

Ordo: Passeriformes

Famili: Turdidae

Genus: Zoothera

Spesies: Zoothera aurea


2. Ciri-ciri atau identifikasi burung Anis sisik

Burung ini berukuran sedang dibandingkan dengan jenis Anis lainnya, panjang tubuhnya sekitar 24-28 cm. 


Ciri identifikasi burung Anis sisik
Ciri identifikasi burung Anis sisik. dok pribadi.

Ciri utama Anis sisik: Tubuh atas cokelat bercorak, kekang atau area antara mata dan pangkal paruh berwarna pucat, tenggorokan abu-abu, dada cokelat berangsur menjadi putih di perut dengan pola sisik tegas.

Paruh tebal panjang, hitam berpangkal bawah kekuningan, iris hitam, kaki kuning.


3. Perbedaan jantan dan betina Anis sisik

Secara kasat mata di lapangan, burung ini sulit dibedakan antara jantan dan betina. Dari berbagai sumber juga menyatakan bahwa jantan dan betina anis sisik itu sama secara morfologi.


4. Persebaran dan Habitat Anis sisik

Anis sisik yang ada di Indonesia merupakan 1 dari 6 sub-spesies atau ras yang diketahui. Ras horsfieldi dari Anis sisik ini memiliki sebaran di Sumatera, Jawa, Bali, Lombok dan Sumbawa.


Habitat burung ini berada di hutan sekunder dataran rendah, perbukitan pada 900 hingga 2.800 meter di atas permukaan laut.


5. Perilaku

Burung ini hampir sebagian besar hidupnya dihabiskan di atas lantai hutan. Biasanya teramati sendiri mencari makan di lantai hutan dengan mendatangi pohon tumbang yang membusuk, seresah daun kering dan pinggiran aliran atau mata air serta pinggiran jalan yang membelah hutan.


6. Makanan Anis sisik

Makanan utama burung Anis macan ini adalah invertebrata seperti cacing, serangga beserta larvanya, siput, serta buah beri hutan.

Saya pernah mendapat foto burung ini saat makan buah beri hutan beberapa tahun yang lalu.


Makanan burung Anis sisik / Anis macan
Anis sisik makan buah beri hutan. dok pribadi.


7. Perkembangbiakan

Sedikit informasi yang diketahui dari perkembangbiakan anis sisik.

Beberapa catatan lama menyebutkan, burung ini berbiak pada bulan September - November (jawa). Sarang berbentuk mangkuk, pada percabangan 1-6 meter di atas permukaan tanah.

Telur biasanya 1-2 butir.


8. Suara Anis sisik

Dari sekian lama saya ketemu burung anis sisik ini, baru pertama kali saya dengar dia bersuara pada bulan November 2022 kemarin.

Suaranya lirih "cweet", lebih jelasnya silahkan dengarkan di video yang sudah saya buat di channel youtube saya di bawah ini. Jangan lupa like, komen dan subscribe ya teman-teman!




Oke, sekian tulisan saya mengenai klasifikasi, ciri-ciri, perbedaan jantan dan betina, persebaran dan habitat, perilaku, makanan, perkembangbiakan dan suara dari burung Anis sisik atau Anis macan.


Semoga bermanfaat!

Salam Manuk!


Sumber: 

  • https://birdsoftheworld.org/bow/species/scathr8/cur/introduction
  • Taufiqurrahman, I., P.G. Akbar, A.A. Purwanto, M. Untung, Z. Assiddiqi, M. Iqbal, W.K. Wibowo, F.N. Tirtaningtyas & D.A. Triana. 2022. Panduan lapangan burung-burung di Indonesia Seri 1: Sunda Besar. Birdpacker Indonesia-Interlude: Batu.

10 Fakta burung Puyuh gonggong jawa serta cara identifikasinya

Hallo sobat manuk, di tulisan kali ini saya akan membahas mengenai klasifikasi, ciri identifikasi, perbedaan jantan dan betina, habitat, makanan, kebiasaan dari burung Puyuh-gonggong Jawa.


burung puyuh gonggong jawa
Burung puyuh-gonggong jawa. dok pribadi

Burung puyuh-gonggong jawa ini menjadi tulisan pelengkap seri puyuh-gonggong yang ada di Jawa setelah sebelumnya saya pernah menulis mengenai Puyuh-gonggong biasa yang hanya ada di pegunungan ujung timur Jawa.


Untuk memudahkan, saya sediakan daftar isi untuk topik-topik yang ingin langsung dibaca. Cara identifikasi burung ini, bisa langsung pilih nomer 5.



1. Penemu burung Puyuh-gonggong jawa

Puyuh-gonggong jawa pertama kali ditemukan dan diperkenalkan kepada dunia ilmu pengetahuan yaitu pada tahun 1.789 oleh Johann Friedrich Gmelin seorang naturalis asal Jerman.


2. Klasifikasi Puyuh-gonggong jawa

Puyuh-gonggong jawa merupakan anggota dari kelompok burung non-passerine.

Burung ini berkerabat dekat dengan jenis burung ayam hutan, sempidan, merak, kuau dan jenis lainnya dalam keluarga Phasianidae. Berikut klasifikasi lengkapnya:


Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Aves

Ordo: Galliformes

Famili: Phasianidae

Genus: Arborophila

Spesies: Arborophila javanica


Pertama kali dideskripsikan, burung ini masuk ke dalam genus Tetrao. Namun seiring perkembangan jaman dan teknologi, akhirnya diperbarui menjadi Arborophila.


Kata Arborophila berasal dari bahasa latin yaitu arbor, arboris yang berarti pohon dan philos yang berarti pohon. Sedangkan javanica merujuk pada pulau Jawa sebagai tempat hidupnya.


Bisa disimpulkan arti namanya, penyuka pohon dari tanah jawa. Arti nama ilmiahnya ini terkait dengan kebiasaannya. Bisa dilanjutkan di bagian bawah artikel ini.


3. Persebaran

Merupakan jenis endemik pulau Jawa, yang artinya secara alami burung ini tidak ada di pulau lain. Puyuh-gonggong jawa memiliki 3 sub-spesies atau ras, antara lain:

  • A.j. javanica: tersebar di jawa bagian barat.
  • A.j. bartelsi: tersebar di sebagian jawa bagian barat hingga tengah.
  • A.j. lawuana: tersebar di jawa timur hingga gunung Semeru. 


4. Habitat

Habitat burung puyuh-gonggong jawa yaitu di hutan diantara ketinggian 300 hingga 3.000 meter di atas permukaan laut. Cenderung lebih mudah dijumpai diantara 600 hingga 2.500 mdpl.


5. Ciri Identifikasi burung Puyuh-gonggong jawa

Ukuran: sedang (28 cm).


Ciri: Oranye kemerahan dan tanda hitam pada kepala dan tengkuk serta warna kehitaman pada kalung leher.

Dada, punggung dan ekor keabuan bergaris hitam. Sayap kecokelatan dengan garis-garis hitam dan berbintik. Bagian bawah cokelat kemerahan. Iris mata abu-abu, paruh hitam, kaki merah.


Perbedaan puyuh-gonggong jawa ras javanica dengan lawuana
Perbedaan puyuh-gonggong jawa ras javanica dengan lawuana. Dok. Matthew Kwan & Pribadi.

Ras bartelsi mirip ras utama, lawuana tengkuk berwarna hitam.


6. Perbedaan Puyuh-gonggong jawa Jantan dan Betina

Merupakan jenis monomorfis kelamin, yang berarti jantan dan betina sangat mirip atau hampir tidak ada perbedaan. Beberapa pakar menyatakan, perbedaan puyuh-gonggong betina adalah ukuran tubuh lebih kecil dan warna tubuh tanpa bulu lebih pudar.


7. Suara Puyuh-gonggong jawa

Nama gonggong disematkan ada kaitannya dengan suara burung puyuh-gonggong jawa, yakni teriakan lembut monoton berulang yang semakin meninggi "whup whup whup".


Biasanya betina akan membersamai di akhir suara jantan (duet song), suaranya seperti suara burung yang keluar dari jam dindingnya Tom and Jerry "whop whup whop whup".


8. Makanan

Makanan puyuh gonggong jawa sangat sedikit diketahui. Kemungkinan mirip dengan jenis puyuh-gonggong lain yang memakan serangga, cacing, biji-bijian hutan. Perlu penelitian lebih lanjut untuk mengetahui makanan alami burung ini di alam.


9. Kebiasaan

Sendiri atau berpasangan serta dalam kelompok lebih dari 6 ekor. Mencari makan di lantai hutan dengan cara mengais tanah seperti ayam-hutan.


Biasanya mencari makan di sekitar kayu tumbang, mungkin karena ini burung puyuh gonggong dinamakan Arborophila.


10. Perkembangbiakan

Diketahui puyuh-gonggong jawa berkembang biak diantara bulan Januari hingga April dan Juli hingga November. Telur burung ini biasanya 4 butir.

Menurut beberapa masyarakat dekat hutan, sarang burung puyuh-gonggong jawa dibangun diantara kaki-kaki pohon yang berukuran besar. 


Telur akan diletakkan di atas tumpukan seresah daun. Saat mengerami, indukan akan menutup seluruh tubuhnya dengan seresah daun kering, hingga tersisa kepalanya saja.


Nah ini juga butuh penelusuran ilmiah lagi bagi para peneliti burung. Bisa jadi bahan penelitian dan jurnal ilmiah tentunya.


Video Burung Puyuh-gonggong Jawa

Lain kali akan saya tambakan video burung puyuh-gonggong jawa disini.  Nah ini dia update an dari artikel ini. Silahkan di lihat, mudah-mudahan bermanfaat dan jangan lupa untuk subscribe ya gaes. Hehe



Sekian dulu, semoga bermanfaat.

Salam Manuk!


Sumber: 

6 Fakta Menarik Burung Merak Hijau

Hallo kawan-kawan pembaca blog ini, saya akan bercerita mengenai salah satu burung unik dari kawasan pulau Jawa.

Selama menjadi pengamat burung dan guide birding di Indonesia khususnya Jawa Timur, saya cukup sering berjumpa dengan jenis ini. Tamu atau klien juga cukup sering meminta diantar melihat burung ini.

Nama burung ini adalah, Merak hijau atau dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Green Peafowl.


Burung yang memiliki nama ilmiah Pavo muticus memiliki 3 ras atau sub-spesies, antara lain:
  1. P. m. muticus yang hidup di pulau Jawa (punah di semenanjung Melayu dan mungkin juga di Thailand).
  2. P. m. spicifer yang hidup di India bagian timur laut dan Bangladesh bagian tenggara hingga barat laut Myanmar (kemungkinan punah).
  3. P. m. imperator yang hidup di Cina bagian selatan dan barat laut Myanmar hingga Tanah Genting Kra, dan ke timur melalui Thailand ke Laos, Vietnam dan Kamboja.
Bisa disimpulkan, burung Merak hijau ini bukan satwa endemik Jawa ataupun Indonesia.

Selanjutnya saya akan membahas mengenai ciri-ciri, habitat, makanan dan kebiasaan, perkembangbiakan, keunikan dan pentingnya melindungi burung Merak hijau di alam.

Simak terus!

1. Ciri-ciri Burung Merak Hijau

Burung Merak hijau dewasa memiliki panjang tubuh 180-250 cm pada jantan, sedangkan betina 100-110 cm. Perbedaannya sangat jelas, karena Merak jantan memiliki tambahan bulu pada bagian tunggir (bagian pangkal ekor) hingga menutupi ekor sepanjang 140-160 cm. Muncul ketika musim kawin, dan berfungsi untuk menarik lawan jenisnya.


Merak hijau jantan
Merak hijau jantan sedang "menari" saat musim kawin


Bulu tubuh dominan hijau mengkilap, bulu penutup sayap kebiruan, bulu primer kekuningan, burung terbang lain cokelat. Jambul tegak di atas kepala. Iris dan paruh cokelat, kaki hitam keabuan.

Betina mirip dengan jantan tapi kaki lebih pendek, bulu tersier bergaris-garis, dan tidak memiliki penutup ekor atas yang panjang.

2. Habitat burung Merak hijau.

Di Indonesia, utamanya di pulau Jawa burung Merak jawa bisa dijumpai di habitat hutan terbuka, pinggiran hutan primer, hutan jati, padang rumput dari ketinggian 0 sampai dengan 2.000 meter di atas permukaan laut.


3. Makanan dan Kebiasaan

Merak hijau memakan jenis rayap, buah-buahan, biji rumput, mahkota bunga, beberapa jenis serangga. Jenis makanan yang lainnya masih sedikit diketahui.

Burung ini biasanya teramati dalam sendiri hingga dalam kelompok kecil. Walaupun ukurannya besar, saat tidur burung merak akan mencari tenggeran di pohon sebagai roosting site nya serta dalam kelompok besar.

4. Perkembangbiakan

Musim berkembang biak hewan unik ini biasanya saat musim kemarau, antara bulan Agustus hingga Oktober. Merupakan hewan poligami, jantan bisa mengawini hingga 5 ekor betina.

Bersarang di tanah dengan 3-4 butir telur.

5. Keunikan Burung Merak Hijau

Seperti saya tulis di atas, Merak jantan memiliki perpanjangan ekor yang muncul saat musim kawin. Di Indonesia, burung ini hanya bisa dijumpai di pulau Jawa.

6. Mengapa Burung Merak Hijau Dilindungi?

Populasi burung merak terus menurun akibat perburuan liar untuk diambil bulunya yang utama. Jika hal ini terus dilakukan, besar kemungkinan burung merak akan punah di alam.

Merujuk ke BirdLife populasi Merak hijau tersisa antara 10.000 - 19.999 ekor burung dewasa di alam.
Angka tersebut masih dibagi lagi di tiap sebaran alami burung ini.

Status konservasi burung ini masuk dalam daftar Genting atau Endangered (EN). Oleh karena itu burung ini harus dilindungi beserta habitatnya, juga diusahakan untuk peningkatan populasi baik secara in-situ (di habitat asli) atau ex-situ (penangkaran, lembaga konservasi dan lain-lain).


Sekian dulu kawan-kawan, tulisan saya mengenai burung Merak hijau. Jika ada pertanyaan silahkan tulis di kolom komentar.

Lain waktu coba saya tambahkan video pengamatan burung Merak hijau di alam.
Salam Manuk!




Contact Form

Name

Email *

Message *