Pantai Ngungap bikin Mangap

Hamparan laut biru dari Pantai Ngongap, Gunungkidul

Ridho melongo di pinggir tebing sambil memegang teropongnya. Ia takjub akan tarian gemulai "bidadari putih" yang meliuk - liuk di udara. Saat matahari mulai terasa terik di Pantai Ngungap, Gunungkidul. 

Di pantai paling Timur Yogyakarta itu kami terpana melihat burung Buntut Sate-putih terbang modar-mandir di dekat sarangnya yang berupa lubang di tebing tegak setinggi hampir 70an meter.

"Doooom!!!" deburan ombak Samudera Hindia berulang kali menabrak dinding tebing lalu semilir angin Barat yang bertiup ditambah dengan pemandangan lanskap karst Gunung Sewu kami lahap siang itu, mahakarya seni Sang Pencipta yang membuat kami terus mengucap syukur. Ditambah lagi pelengkap burung yang bernama Phaeton lepturus, sempurna.
Tebing pantai ngungap gunungkidul
Lanskap Pantai tebing Ngungap, Gunungkidul

Sejarah Pantai Ngungap

Dahulu kala ketika para Naturalis menjelajah Nusantara, tersebutlah seorang bernama Franz Wilhelm Junghuhn pernah mampir di lokasi ini. Seorang naturalis berkebangsaan Jerman pernah melukis pantai tebing ini, saya pernah melihat lukisan beliau lewar internet namun sayang saya lupa dilaman mana, namun melihat pantai ini saya jadi teringat lukisan beliau. Dari lukisan yang dibuat sekitar tahun 1830an hingga sekarang lanskap pantai Ngungap seperti tidak berubah. Dari pinggir tebing yang saya injak saya membayangkan Junghuhn sedang melukis ditempat saya berada. Mak tratap!

Burung Buntut Sate-putih | White-tailed Tropicbird
Buntut Sate-putih Phaeton lepturus dengan ekor yang menjuntai terbang di atas Laut Selatan

Burung Buntut Sate-putih | White-tailed Tropicbird

Pengamatan hari itu merupakan request dari seorang teman yang ngebet banget melihat dan mengabadikan kecantikan si Buntut sate. Memang tak seramai dan tak sedekat pengamatan di bulan antara Juli hingga September, namun sesekali bidadari itu tak malu-malu untuk mendekat dan seperti slow motion karena melawan angin Barat yang cukup kencang. Walau begitu kami menikmati pengamatan tersebut. Sang Surya kian meninggi, sialnya kami lupa bawa topi dan air minum pun hanya sebotol jadi kami putuskan untuk meneduh di bawah pendopo.
Kami bertemu dan mengobrol dengan seorang penduduk setempat yang akan mencari rumput untuk ternaknya. Beliau bercerita banyak hal, tentang burung tersebut yang katanya ramai jika musim ikan, tentang para pelaut dari berbagai daerah seperti Cilacap hingga Sulawesi yang mencari ikan di daerah tersebut. Ada satu cerita menarik tentang kebiasaan atau adat orang di daerah tersebut. Beliau berkata "warga disini dilarang untuk memburu burung baik untuk dimakan atau dijual". Mendengar cerita tersebut membuat kami lega dengan kelangsungan burung-burung yang ada disini.
Burung Buntut Sate-putih dari atas | White-tailed Tropicbird above
Tampak bawah burung Buntut-sate Putih
Lama kami mengobrol tiba-tiba terjadi gempa bumi sampai membuat pendopo terlihat bergoyang, lebih ngeri lagi karena kami berada di pinggir laut. Segera kami kemasi barang dan pergi kembali pulang. Sesaat kami tiba di Jogja ternyata pusat gempa berada di daerah Kebumen, Jawa Tengah dan tidak berpotensi terjadinya Tsunami.

Semoga saat musim ikan di laut ini atau saat ramainya burung ini hiruk pikuk di pantai Ngungap, kami bisa menyapa lagi si Buntut Sate-putih, tentunya bersama ANDA!

Rute / Jalan / Cara Menuju Pantai Ngungap

Catatan awal saya jika anda ingin pergi ke pantai Ngungap sebaiknya anda menggunakan kendaraan pribadi, karena relatif susah menjangkau lokasi ini menggunakan kendaraan atau transportasi umum. Selain itu jarak pantai ini dengan kota-kota sekitar (Jogja, Solo, Baturetno, Pacitan) juga relatif jauh, hal ini mungkin bisa mengganggu kepuasaan anda di pantai Ngongap untuk berlama-lama. Anda bisa kepikiran terus waktu untuk pulang disesuaikan dengan jadwal kendaraan / transportasi umumnya.

Sekali lagi, lebih baik menggunakan kendaraan pribadi. Agar anda puas berlama-lama dan menikmati pesona pantai Ngungap. Berikut Jalur atau rute yang harus anda tempuh menuju pantai Ngongap. 

Berangkat dari kota Jogja menuju Pantai Ngungap

Keluar dari kota menuju Jalan Wonosari lalu lurus ke arah timur hingga Piyungan. Selanjutnya perjalanan naik-turun diawali dari Patuk (Gapura perbatasan Kabupaten Gunung Kidul) lalu ikuti jalan utama menuju Sambipitu. Setelah melewati Tahura Bunder lanjutkan hingga perempatan Gading (lapangan terbang) dan lanjutkan hingga kota Wonosari. Selanjutnya melewati pasar Wonosari hingga traffic light ambil arah lurus ke timur menuju Semanu. Setelah turun melewati jembatan lalu akan bertemu dengan perempatan lampu merah Jalan Nasional III, ambil jalur ke kiri ke hingga pertigaan Bedoyo lalu lanjutkan dengan mengambil arah kanan atau ke selatan lewat Jalan Wonosari Pracimatoro. 
Jalan Nasional III Semanu
Perempatan Jalan Nasional III Semanu, ambil arah kiri untuk menuju Pantai Ngongap. Sumber: Google Map.
 Ikuti jalan tersebut anda akan disuguhi pemandangan asli Gunung Kidul, jalan diantara bukit-bukit yang kebanyakan ditanami pohon Jati. Nikmati perjalanan anda hingga bertemu pertigaan, ambil jalur kanan (selatan) masuk Jalan Baron Jeruklegi. Terus ikuti jalan hingga melewati Polsek Girisubo lalu Pasar Jeruk Wudel, terus ke arah selatan hingga bertemu pertigaan.
Pertigaan desa Pucung, Girisubo, Gunung Kidul.

Pilih belok kanan menuju desa Pucung, selanjutnya terus ikuti jalan aspal tersebut hingga berganti dengan jalan berbatu, melewati kebun pohon Jati, beberapa naik dan turunan hingga bertemu Pendopo Tua dan sampailah anda di Pantai Ngungap.

Berikut peta jalur dari kota Jogja menuju pantai Ngungap:


Rawa Pagak, ya birding ya mancing


Jembatan penghubung antara desa terdekat dengan sawa disekitar rawa

Pergantian tahun 2012 ke 2013 yang lalu, saya dan teman habiskan di Rawa desa Pagak Kecamatan Ngombol Kabupaten Purworejo.

Mencoba suasana tahun baru yang belum pernah kami coba. Lokasi ini jika ditempuh dari Jogja kurang lebih 1,5 jam perjalanan via darat pakai motor. Lokasinya di barat pantai Congot.

Rawa ini memanjang dari Timur ke Barat dari desa Jatimalang ke desa Pagak. Kondisi rawa masih banyak ditumbuhi buluh-buluh rawa, beberapa jenis tanaman mangrove dan berbagai macam tanaman khas rawa yang lain.

Sebagian besar rawa sudah beralih fungsi menjadi sawah di selatan dan utara rawa tersebut. Kunjungan saya kali ini untuk balas dendam akan pengamatan ditahun baru tersebut, sedikit burung yang bisa saya amati serta hilang konsentrasi karena terkena tikaman panas matahari, nggliyeng jadinya.

Rawa pagak juga menjadi habitat berbagai jenis capung sala satunya Brachythemis contaminata

Asian Waterbird Cencus

Bertepatan dengan Asian Waterbird Cencus 2014 serta dengar-dengar mas Nurdin Setya Budi dan mas Surip dapat lebih dari 50 jenis burung di lokasi ini saya semakin penasaran dengan rawa ini. Apalagi mereka dapat jenis yang menarik dan sering terlewatkan, Kecici belalang. Wah saya juga pingin lihat. Tiba sekitar pukul 09.00 WIB (Waktu Indonesia Bionic) kami langsung disambut riuhnya suara burung yang ngumpet dibalik buluh rawa atau dahan mangrove, ramai sekali. Suara Bambangan kuning, Mandar batu, Kareo padi, jenis perenjak-perenjakan saling bersahutan. Kadang ada burung yang lompat lalu terbang dari persembunyiannya karena mendengar langkah kami. Sesekali terlihat Mandar batu berenang melintasi rawa, Perenjak padi dan Perenjak rawa di pucuk buluh rawa berteman tiada rasa benci satu sama lain. Puluhan Kowak malam abu berseliweran kembali kerumahnya di pucuk pohon mangrove. Di sawah kadang terlihat burung Berkik terbang karena kaget dengan pak Tani yang sedang menaburkan pupuk ke padinya, lalu berkik yang terbang pun mengoceh dengan bahasanya, mungkin ia berata "sial".

Birding at Rawa Pagak
Ayo diamati burungnya, yang lain mancing
Wahab datang membawa salinan suara burung, asing bagi saya karena jarang saya dengar. Belum mulai saya bertanya tiba tiba seekor burung menyahut panggilan dari Wahab lalu bernyanyi bersama persis seperti rekaman pemancingnya. Bino saya pakai untuk melihatnya dan ternyata itu Kecici belalang, yooohooo jenis baru alias lifer. Hanya sebentar kami melihat sosoknya ditambah lagi sudah mblenger ngitung Kowak malam abu yang beratus ratus jumlahnya, dan siang hari pun tiba kami mencari lokasi untuk beristirahat.

Mancing di Rawa Pagak


Mancing di Rawa Pagak
Di selatan rawa agak cukup datar dan dipinggirnya terdapat air yang jernih, kami pun singgah. Satu persatu bekal dikelurkan, air minum yang ada di dalam botol kami pindahkan ke perut. Sembari duduk-duduk, mas Kir mengelurkan pancing dan kail yang memang sudah dipersiapkan jika pengamatan di lokasi ini. Kami melepas lelah dengan memancing, saking asyiknya mancing panas matahari jadi tak terasa. Sembari mancing, birding tetap berlanjut. Santai menunggu burung yang lewat di depan kami atau terbang di atas sembari gojeg kere para pemancing amateur ini, ledekan keluar jika ada yang nggak dapat ikan.

Birder on strike!
Tak terasa hampir 2 jam kami lewatkan, panas menyengat mulai terasa karena air bekal tinggal setengah botol dan itu tak dapat memuaskan dahaga bagi 7 orang, sebenarnya air rawa melimpah ruah tapi kami kasihan dengan ikan yang hidup disana nanti mereka minum apa?

Akhirnya mancing eh birding usai sudah, 39 jenis burung berhasil kami amati dan tidak lupa 3 jenis ikan berhasil kami pancing. Ditutup dengan foto bersama dan kami kembali pulang. Lelah dan kepanasan sebanding dengan apa yang kami dapat, melalui burung-burung bebas bersangkar langit biru dan mega-mega. Sujud syukur haturkan kepada sang Pencipta. Terima kasih, esok kami kan kembali lagi.
Terima kasih pagaaaaaaak!!!

Secuil kisah Anggrek hamba

"Oh itu anggrek" sambil menunjuk ke arah tanaman berbunga putih tanpa ada daun melekat di batangnya, ukurannya kira-kira yang kecil kurang lebih 8 cm dan yang cukup besar kurang lebih 13 cm saja. Melihat tanaman tersebut yang jebul adalah jenis anggrek membuat mindset saya terhadap anggrek berubah total, dirombak. Entah gobloknya saya atau pekok saja.
Didymoplexis pallens anggrek di sekitar rumpun bambu
 Didymoplexis pallens namanya, ia tumbuh di antara seresah-seresah daun bambu. Bunga putih mungil kontras dengan warna coklat daun bambu kering. Biasanya anggrek ini mulai mucul ketika hujan pertama di musim penghujan, jadi ketika hujan jatuh lalu airnya masuk ke dalam tanah dan mencapai "umbinya" maka lama kelamaan anggrek ini akan segera muncul ke permukaan tanah dan berbunga.
Kak Imamlah yang banyak bercerita dan jelas membuka cakrawala ke-anggrek-an, orang yang rela bolak balik Sermo-Jogja-Merapi dst hanya untuk si anggrek mekar. Dan pada saat itu di mulailah petualangan "chibi-chibi". Biar kepala dan leher nggak capek pas pengamatan burung, mencari-cari anggrek yang tumbuh di tanah adalah solusinya. Tapi sama saja mata harus jeli membedakan anggrek dengan bunga tanaman lain. Kalau warnanya mencolok ya untung buat kita, tapi jika warnanya hijau dan samar dengan tanaman lain ya, bisa picek matamu hahahha.

Seperti dua jenis ini Microtis unifolia versus Herminium lanceum yang saya temui awal tahun 2013 kemarin di Gunung Ijen, kalau melihat sesaat keduanya sama persis. Hijau, kecil, seperti rumput disekitarnya. Tapi jika dilihat dengan seksama kalau perlu dengan njengking sampai mata sedekat mungkin barulah terlihat bedanya, apalagi dengan bantuan kamera makro wes penak karo penak. Satu mirip "kura-kura" dan yang satu mirip anak kecil dengan anunya hehe.
Herminium lanceum mirip anak kecil bertopi tanpa celana :p

Microtis unifolia si angrek kura-kura


Masih banyak anggrek yang belum saya temui, warna-warninya serta pesona selalu dicari. Gara-gara anggrek kecil di depan kontrakan menjadi candu untuk terus mencari jenis lain makhluk nan ayu ini. Mari kita kemasi barang kita, mandi, pakai baju dan berangkat ke rimba ke alam raya.
#Bersambung....

1 Hari 3 Pernikahan

Beberapa hari sebelum tanggal 6 Mei 2012 saya di kabari bahwa sepupu saya akan melangsungkan pernikahan. Ayah saya memberi kabar bahwa pernikahan akan dilangsungkan di Srandakan Bantul, sontak mendengar kabar tersebut saya bertanya kepada Shaim karena rumah beliau juga di daerah tersebut. Setelah bertanya mengenai alamat dan lain sebagainya akhirnya saya putuskan mengajak Shaim ke acara itu serta H-1 saya menginap di rumah Shaim agar menghemat waktu dan biaya(makan.red) hehe
 
Pagi menjelang dan pesta pernikahan akan dilaksanakan siang nanti, dan mumpung di rumah Shaim maka tidak ada salahnya mengunjungi Trisik seisinya, sawah sampai pantai tentunya. Rumah Shaim berdekatan dengan Trisik, sehingga kerap kali bagi pasukan Bionic mampir ke rumah Shaim sekedar istirahat seusai pengamatan di pantai tempat singgah para musafir alias burung pantai Migran. Walau bulan Mei dimana para “musafir” bertolak pulang, kami berharap mendapat pengamatan yang menyenangkan.
Sekitar jam 08.00 WIB kami pun tiba di Trisik, sayang kami tak dapat berlama – lama untuk pengamatan di sawah, karena sawah sudah penuh padi yang sudah setinggi pinggang sehingga sulit bagi kami mengamati burung di balik rimbunnya padi. Kami melanjutkan ke Selatan, menuju Laguna pantai Trisik. Sampai disana tak kami jumpai burung pantai migran, sesaat kami “scan” menggunangakan “bino” namun tetap saja kami tak melihat adanya burung pantai migran dan akhirnya kami putuskan untuk kembali pulang.
Dalam perjalanan pulang kami melewati ladang tebu dan mata Shaim menemukan sesuatu yang menarik di balik rimbunnya tebu, Burung tentunya dan ini bakal menjadi first sight atau LIFER bagi kami berdua. Seusai motor kami hentikan, kamera dan binokuler kami siapkan langsung kami selidiki burung tersebut yang sedang ngumpet di balik tebu. Cukup sulit mengintip – intip, namun akhirnya ketemu juga. Burung kecil seukuran burung Gereja Erasia, bentuk corak pada tubuh bagian atas garis-garis lurus tebal berwarna coklat, paruh tebal pendek warna krem, terdapat alis di atas matanya, dada coklat muda dengan coretan lurus coklat, perut hingga tungging putih ke”krem”an dan kaki berwarna pink.
Manyar Tempua/Baya Weaver di balik rimbun Tebu
Ploceus philippinus betina Menganyam sarang




















Di paruh burung ini terselip sehelai rumput, rupa – rupanya burung ini sedang menganyam sarang. WOW, ada yang mau nikahan nih! Salah satu moment yang jarang kami temui. Rencana hari ini akan menghadiri acara pernikahan sepupu eh malah ini mampir dulu di nikahan orang eh burung. Setelah selesai dengan sehelai rumput yang sudah teranyam di calon sarang maka burung tersebut pergi mencari rumput atau bahan lain untuk melanjutkan pembuatan sarangnya. 
 
Di atas bunga tebu kami melihat dua sosok burung yang sama, namun ada yang berbeda dari salah satu burung tersebut. Burung ini pada bagian atas kepala atau mahkotanya sampai tengkuk berwarna kuning emas, dada kecoklatan dengan coret coklat tua, muka dan dagu berwarna gelap. Setelah cek buku panduan, ternyata nama jenis burung tadi adalah Manyar Tempua. Burung Manyar Tempua yang bermahkotakan warna kuning emas adalah burung pejantan sedangkan betina tidak bermahkota warna kuning emas. 
Ternyata tak hanya dua ekor saja yang kami temui, burung yang memunyai nama ilmiah Ploceus philippinus ini tersebar di ladang tebu seberang, mengerumuni padi yang hampir menguning, serta pohon asem jawa tempat kami berteduh dari panas matahari. Lebih dari 20 burung Manyar Tempua tercatat.
Baya Weaver Jantan di atas kembang Tebu

Hari makin siang, enggan rasanya meninggalkan burung cantik dan ganteng ini sebab hampir 3 tahun saya pengamatan di Trisik baru kali ini berjumpa dengan Manyar Tempua, namun keluarga dan sepupu sudah menanti, saatnya bernjak menuju acara pernikahan yang kedua.
Saya bersama sepupu dan istrinya
Sore menjelang, acara pernikahan pun usai. Keluarga dan rombongan kembali ke Pacitan. Saya dan Shaim kembali ke Trisik. LOH?? Kami memang belum puas mengamati Manyar Tempua tadi, sesampainya disana kami terkejut dan bingung bukan kepalang. Burung Manyar Tempuanya pada hilang, tertinggal calon sarang mereka saja. Pertanyaan dan sangkaan pun muncul, kenapa mereka pergi? Mengapa mereka pergi?
Sejenak kami menunggu berharap mereka sedang pergi sebentar dan akan kembali, namun juga tak kunjung datang. Ah sudahlah, kamipun mencoba lagi menuju Laguna. Setibanya disana lagi – lagi Laguna sepi, tapi ada sedikit penawar kecewa. Beberapa ekor Cerek Jawa teramati, burung pantai juru kunci lokasi ini.
 
Cerek Jawa Charadrius javanicus juru kunci Laguna Trisik
Segerombolan burung kurang lebih ada 22 ekor, ukuran lebih kecil dari Cerek Jawa paruhnya pun lebih panjang dari paruh Cerek Jawa, kakinya warna hitam, leher sampai dada berwarna merah. Ya burung ini dalam bahasa Inggris bernama Red Necked Stint (RNS) atau Kedidi Leher Merah.
 
Red-necked Stint pakain nikah yang hampir sempurna
 Berbeda sekali ketika terlihat di sekitar bulan Oktober -  Januari, leher sampai dada burung ini tak berwarna merah. Karena ini bulan Mei, saatnya bagi burung Pantai migran untuk kembali ke "Nikahan" site mereka di bumi bagian Utara. Begitu juga RNS ini, mereka telah mengenakan baju nikah dan bersiap kembali ke Breeding site mereka. Melanjutkan keturunan mereka melanjutkan siklus kehidupan!

Sepasang Kedidi Leher Merah bak sepasang pengantin
Hari yang berkesan, dalam satu hari saya dan Shaim menghadiri tiga acara Nikahan. Sekian dan siapa akan menikah selanjutnya?
Gerombolan Calidris ruficollis yang siap kembali ke Utara

Contact Form

Name

Email *

Message *