Transportasi Murah ala Backpacker - Pergi dari Bali Menuju Lombok

Ketika pulau Bali kebanjiran pelancong Indonesia dan asing, pulau kembarannya yaitu Lombok menjadi tempat melipir untuk menghindari keramaian yang super asuhay!

Biasanya berlaku pada para wisatawan yang berkunjung ke tempat wisata utama di Bali, seperti Pantai di kawasan Kuta dan sekitarnya, ndelok sawah di Ubud, Bedugul dan seterusnya.

Bukannya enjoy dengan suasana, malah umpek-umpekan ra karuan.
Klik link di bawah ini untuk lompat baca ke:
Pelabuhan Lembar Lombok Nusa Tenggara Barat pagi hari
Awal pagi di perairan Lombok sebelum sandar di pelabuhan Lembar

Saya mengunjungi pulau besar paling barat provinsi Nusa Tenggara Barat ini, tak lain dan tak bukan adalah urusan permanukan.

Sebanyak dua kali kunjungan di tahun 2016 (bulan Agustus dan Oktober) kemarin, Kaya? Tunggu jangan berprasangka baik dulu, tapi tak amini sik wae. Aamiin!!!

Cukup mahal memang harga tiket pesawat dari bandara Juanda, Surabaya ke bandara internasional Lombok Praya.

Dengan kisaran 400.000 - 1.000.000,- rupiah untuk sekali mabur tanpa transit. Hitung sendiri kalau dua kali kunjungan, 4 kali mabur. Tekor bok!

Nah, kali kedua kemarin saya bersama rombongan memakai moda transportasi darat dan laut.

Sebanyak 6 orang berjubel dalam satu mobil berangkat dari Malang singgah di taman nasional Baluran, lanjut ke pelabuhan Ketapang untuk nyebrang ke Bali lalu pancal gas lagi ke selatan di pulau Serangan, malam hari sudah di pelabuhan Padang Bai untuk naik ferry menyebrangi selat Lombok.

Kapal ferry padangbai - lembar
Kapal Ferry yang bersandar di pelabuhan Lembar, Lombok

Kita patungan untuk BBM dan tiket kapal ferry Ketapang-Gilimanuk.

Selanjutnya mobil kita tinggal di parkiran pelabuhan, karena ongkos tiket penumpang dengan kendaraan yakni mobil lumayan mahal.

Hargat Tiket dan Jadwal Penyeberangan Kapal Ferry Pelabuhan Padang Bai - Lembar

Bagi anda yang merencanakan liburan di Bali dan Lombok, tak ada salahnya mencoba menggunakan kapal ferry.

Selain mendapat pengalaman yang sudah saya uraikan di atas, cocok bagi anda para backpacker untuk menekan harga pengeluaran liburan di Lombok nantinya.

Berikut tabel harga tiket kapal pelabuhan Padang Bai, Bali - Lembar, Lombok:

No. Kategori Penumpang Harga (Rp.)
A Tanpa Kendaraan
1. Dewasa 46.000,-
2. Anak-anak 29.000,-
B Dengan Kendaraan
3. Golongan I - Sepeda 62.000,-
4. Golongan II - Sepeda Motor (<500CC) 129.000,-
5. Golongan III - Sepeda Motor (>=500CC) 250.000,-
6. Golongan IVa - Mobil/Sedan (<=5m) 917.000,-
7. Golongan IVb - Mobil Barang (<=5m) 827.000,-
8. Golongan Va - Bis Sedang (<=7m) 1.780.000,-
9. Golongan Vb - Truk Sedang (<=7m) 1.460.000,-
10. Golongan VIa - Bis Besar (<=10m) 3.010.000,-
11. Golongan VIb - Truk Besar (<=10m) 2.398.000,-
12. Golongan VII - Truk Trailer (<=12m) 3.060.000,-
13. Golongan VIII - Truk Trailer (<=16m) 4.538.000,-
14. Golongan IX - Truk Trailer (>16m) 6.830.000,-

Sumber di atas saya ambil dari situs resmi PT. ASDP Indonesia Ferry.

Dari website tersebut, anda bisa memeriksa jadwal penyeberangan, harga tiket, dan informasi terkait transportasi laut via kapal ferry dari berbagai daerah di Indonesia.

Simpan atau bookmark websitenya!

Selama 24 jam, penyeberangan beroperasi dengan jadwal keberangkatan kapal per satu jam.

Dari Bali ke Lombok, kurang lebih 4 jam waktu yang di butuhkan atau sejauh 360 Km untuk menyeberangi selat Lombok, saya sarankan untuk menyeberang pada malam hari. Kenapa?

Karena selain bisa memanfaatkan waktu perjalanan laut untuk istirahat di ruang tunggu kapal, anda bisa mulai menikmati wisata di Lombok dari awal.

Tepatnya, ketika kapal akan bersandar saat pagi hari.

Cobalah keluar ke dek kapal, anda akan melihat lanskap pulau Lombok sisi barat-laut, pantai, kabut pagi ditambah matahari yang muncul di ufuk timur perlahan mewarnai kuning emas segala penjuru.

Pastikan berkunjung di musim yang tepat he he. Berikut video singkat saat kami mendekati dan bersandar di Lembar:


Transportasi Dari Sekitar Denpasar - Pelabuhan Padang Bai

Akses kendaraan untuk mencapai pelabuhan Padangbai dari Bali, anda bisa menggunakan kendaraan umum yaitu mini-bus via Terminal Ubung, Denpasar.

Tarif berkisar dari Rp. 40.000,- s/d. Rp. 60.000,- (Sumber: https://www.bloggerlampung.com/).

Banyak juga yang merekomendasikan menggunakan shuttle bus dari Perama Tour & Travel untuk mengantarkan anda dari sekitar kota Denpasar ke pelabuhan Padang Bai dengan harga Rp. 75.000,- untuk menempuh jarak sekitar 45 Km atau lama perjalanan sekitar 1 jam 30 menit hingga 2 jam.

Jadwal keberangkatan shuttle bus antara lain:
  • 06.00 WITA
  • 07.00 WITA
  • 10.00 WITA
  • 13.30 WITA
Selain yang di atas perusahaan tour dan travel ini juga menyediakan trayek ke berbagai lokasi di daerah Bali dan Lombok, paket wisata harian, dan untuk lebih jelasnya silahkan kunjungi websitenya disini.

Terima kasih sudah bersedia membaca cerita pengalaman saya ini, semoga bermanfaat.

Mohon maaf jika merepotkan lagi untuk di bagikan ke rekan, saudara, sanak-famili, pacar, teman disebelah dan lain sebagainya.

Wassalam!

Tempat Makan Enak Murah Halal di Bandara Ngurah Rai

Tahun kemarin saya cukup sering mengunjungi daerah timur Indonesia seperti Papua Barat, Sumba dan Sumbawa. Menggunakan moda transportasi udara, dua daerah terakhir seringkali membuat saya transit di bandara Ngurah Rai, Bali.


Setiap perjalanan jarak jauh sering kali saya kurang persiapan, terutama perbekalan alias ransum perjalanan. Memang meringankan beban tas dan barang bawaan, tetapi konsekuensinya adalah lapar. Apalagi saya jarang sarapan, lengkap sudah!

Tempat makan murah "Waroeng Jawa" di Bandara Ngurah Rai, Bali
Tempat makan murah "Waroeng Jawa" di Bandara Ngurah Rai, Bali. Sumber Google Map

Waktu saya ke Sumba, setelah terbang dari Surabaya pesawat yang saya tumpangi singgah di bandara Ngurah Rai selama kurang lebih 2 jam, sebelum melanjutkan penerbangan ke Sumba. Pas sekali waktu makan siang dan mulut kecut ingin ngopi dan rokokan. Akhirnya saya dan rombongan mencari tempat makan di areal bandara.

Untuk kami yang berkantong cekak dan kere hore, tidak mungkin memilih Starbucks sebagai tempat pilihan ngopi itu sama saja seperti mempercepat laju kemiskinan. Pun juga memilih tempat makan yang berada di dalam gedung bandara pastinya akan ribet juga kalau mau rokokan. Bermodalkan informasi dari petugas, kami diberi tahu mengenai warung makan murah di dekat tempat parkir bandara.

Suasana di Warung Jawa Bandara Ngurah Rai, Bali
Suasana di Warung Jawa Bandara Ngurah Rai, Bali

Jaraknya sekitar 300 meter ke arah utara dari pintu kedatangan terminal domestik. Begitu tiba disana benar saja pengunjungnya rata-rata adalah sopir dan pelancong bergenre kere hore seperti kami. Asap rokok mengepul bebas keluar masuk mulut pengunjung warung tersebut, cocok! Pucuk dicinta ulam naga panjangnya... Saya dan dua teman saya langsung memesan 3 gelas kopi dan 3 piring nasi campur lauk ayam goreng. Selesai makan, kami menikmati kopi yang sudah tersedia dengan menyalakan api perdamaian. Ssseeeessshhhh buuuullll!!!

Menu Makanan

Menu masakan yang disajikan disini sesuai dengan nama warungnya “Waroeng Jawa” antara lain nasi campur dengan berbagai lauk, soto, dan pecel. Selain itu juga ada roti, buah pisang, gorengan, kerupuk, keripik dan peyek. Untuk minuman ada softdrink dan minuman dingin di kulkas tersedia juga kopi, teh, jeruk, susu dan air mineral.

Tag line warung ini yang tertera adalah “Asli, Enak, Halal” cocok bagi anda terutama muslim/muslimah yang kadang worried kalau mencari makanan halal di Bali. Kategori murah memang relatif, disini saya makan bertiga menghabiskan kurang dari Rp. 100.000,- sudah termasuk kopi, 2 botol air mineral dan kerupuk.

Tersedia minuman dingin di Warung Jawa Bandara Ngurah Rai, Bali.
Tersedia minuman dingin di Warung Jawa Bandara Ngurah Rai, Bali.

Peta Lokasi

Jika anda berada di terminal domestik, dari pintu kedatangan silahkan lurus ke arah utara sejalan ke tempat parkir lalu belok ke kanan (barat) langsung belok kiri lagi, tempatnya di sebelah kanan (timur) anda. Warung ini berseberangan dengan Alfamart sehingga cukup mudah di temukan.

Jika ada dari pintu keberangkatan, berjalanlah ke arah timur sampai pintu kedatangan lalu belok ke arah kiri (utara) lalu ikuti jalur yang sama dengan yang saya tulis di paragraf di atas. Berikut peta untuk memudahkan anda di bawah ini.



Silahkan klik simbolpada peta untuk melihat informasi lengkap.



Atau silahkan klik link google maps disini.

Sekian info mengenai tempat makan murah di bandara Ngurah Rai, Bali. Selamat menikmati jika anda berhasil tiba disana. Semoga bermanfaat dan kita menjadi manusia yang hemat pangkal pandai. Wassalam!

9 Tempat Wisata Pacitan dalam 1 Hari !!!

Tulisan ini ditujukan untuk anda yang sedang atau berencana pergi ke tempat wisata di Pacitan dengan waktu efektif berlibur hanya 1 hari 1 malam penuh untuk menikmati suasana serta kekhasan tanah air kecilku ini.

9 lokasi dalam sehari??? Emang bisa??? Ugal-ugalan tenan.

Nah, BISA! Bahkan lebih, saya tambah bonus di bawah dengan catatan anda harus siap dengan kondisi tubuh yang prima lalu sebisa mungkin membawa atau menyewa kendaraan sendiri, bisa sepeda motor atau mobil. Lalu, waktu yang dihabiskan di setiap lokasi adalah 1 jam 30 menit hingga 2 jam paling lama.

bukit di pacitan
Pagi di salah satu bukit di Pacitan, kota dan teluk Pacitan terlihat dari sini.

Walau berpredikat kota 1001 Gua, tapi di postingan ini tidak akan mengunjungi gua yang ada di kabupaten ini. Mungkin di lain tulisan akan saya buat ya!

Petunjuk atau rute perjalanan ke setiap lokasi bisa klik disini, dengan syarat ada aplikasi Google Maps di ponsel anda.

Jika space memory hape anda hampir penuh, saya sediakan link ke Google Maps di masing-masing destinasi. Anda juga bisa download file .kml yang bisa di export ke aplikasi Google My Maps lewat desktop atau laptop yang bisa di sinkronkan dengan Google Maps.



Download file .kml peta silahkan klik disini.

Jika mengikuti tulisan ini, anda akan mengunjungi wisata bukit, pantai, kuliner, dan misteri serta sejarah. Penasaran? Yuk kita langsung saja ke destinasi wisata di Pacitan:

Sunrise di Bukit Semar

Lokasi ini bernama bukit Semar yang terletak di desa Ponggok kecamatan Pacitan. Bisa di tempuh dari pusat kota Pacitan kurang lebih selama 20 menit (6,4 Km).

Bukit Semar spot menikmati sunrise di Pacitan
Suasana saat matahari terbit di bukit Semar, Pacitan.

Jelas anda harus bangun pagi. Sebaiknya mulai berangkat pukul 04.00 WIB sehingga saat di lokasi anda punya waktu untuk mencari tempat untuk menikmati matahari terbit, mempersiapkan setting-an kamera, ganti kostum (jika perlu) dan sebagainya.

Silahkan tunggu dan nikmati lansekap kota Pacitan dari ketinggian sejalan dengan naiknya matahari dari balik gunung Limo dan perbukitan di wilayah timur.

Di bulan Juli tahun kemarin saya cukup beruntung mendapati kabut pagi tebal yang menyelimuti bukit dan pedesaan di bawah, selain itu juga pas langitnya cerah. Hanya saja saya sedikit terlambat tiba disana.

Untuk melanjutkan ke destinasi selanjutnya, saya sarankan untuk beranjak dari lokasi ini pada pukul 06.00 WIB, atau mau tetap masih berlama-lama disini juga silahkan. Tapi bagi yang punya waktu sehari di Pacitan, monggo lanjut!

Soto Kebonagung

Setelah menikmati pagi di bukit yang biasanya dingin tentu (biasanya) lapar. Pemberhentian pertama adalah menikmati salah satu kuliner khas Pacitan. Sarapan dulu, tempat-tempat yang dikunjungi masih banyak.

Soto Kebonagung, Pacitan
Menu andalan di warung Marem Soto Ayam Kampung "Soto Kebonagung" .Foto: adasatu.com

Terletak di kecamatan Kebonagung tepat di depan kantor kecamatan, 7,8 Km tenggara dari pusat kota. Waktu tempuh yang dibutuhkan sekitar 30 menit dari Bukit Semar. Bernama warung "Marem Soto Ayam Kampung", tapi oleh kebanyakan orang lebih dikenal singkat dengan soto Kebonagung karena tempatnya berada di kecamatan Kebonagung.

Menikmati soto mangkuk besar bertabur ayam kampung goreng gurih ditambah kacang goreng, dan bagi saya yang khas itu adalah kecap gula aren Pacitannya plus sambel pedas serta jangan lupa juga kerupuk nasi yang ukurannya sebesar kipas, cukup untuk mengisi energi anda meneruskan perjalanan.

Sembari menunggu makanan turun ke perut anda bisa leyeh-leyeh sambil menikmati pemandangan terasering sawah di seberang warung tepat di belakang kantor kecamatan.

Jangan sampai ngantuk dan ketiduran, bayar dan lanjut!

Pantai Soge 

Selama kurang lebih 45 menit anda akan berkendara di Jalur Lintas Selatan (JLS) menuju pantai Soge. Hiburan di perjalanan adalah hutan pantai, sawah dan lanskap pantai selatan. Jangan lengah, tetap hati-hati berkendara.

Pemandangan pantai Soge dari Jalur Lintas Selatan, Pacitan
Panorama pantai Soge dari pinggir Jalur Lintas Selatan. Foto: @fajrima

Menjelang tiba, anda akan melewati turunan lalu perlahan-lahan di sebelah kanan anda akan terlihat jelas samudera Hindia dan pantai Soge di depan anda. Biasanya kebanyakan orang akan berhenti di tepi jalan sebelah kanan atau selatan untuk mmengambil gambar seluruh lanskap pantai Soge. Cobalah dan hati-hati ketika menyeberang.

Semenjak dibukanya JLS yang menghubungkan dengan kabupaten Trenggalek, pantai ini menjadi semakin ramai dikunjungi wisatawan dan mulai banyak warung-warung makan di kiri-kanan jalan. Mungkin yang tidak sempat sarapan atau pantang makan soto ayam kampung, bisa sarapan di sekitar pantai ini.

Puas menikmati panorama pantai ini mari lanjut lagi. Ada sebuah jembatan (katanya) khas yang ramai orang nongkrong dan berswafoto tiap pagi dan sore di akhir minggu. Anda akan melewatinya untuk menuju ke tempat selanjutnya, singgah sebentar jepret dan berlalu.

Jembatan Soge, Pacitan
Pemandangan laguna pantai Soge dari jembatan Soge. Foto: @arudewangga

Pantai Taman

15 menit berkendara ke arah timur anda akan tiba di pantai Taman, desa Hadiwarno kecamatan Ngadirojo. Di lokasi ini ada tempat penangkaran penyu dan Flying Fox terpanjang se Indonesia Raya.

Pantai selatan pulau Jawa merupakan salah satu tempat bertelur untuk Penyu. Sepanjang garis pantai selatan Jawa, pantai Taman ternyata juga di jadikan lokasi bertelur bagi penyu, terutama jenis Penyu Hijau Chelonia mydas, Penyu Sisik Eretmochelys imbricata, Penyu Lekang Lepidochelys olivacea dan Penyu belimbing Dermochelys coriacea. 

Warga mendirikan tempat penangkaran untuk memindahkan telur yang ada di pantai ke tempat penetasan untuk meningkatkan keberhasilan telur menetas yang selanjutnya tukik penyu akan dilepaskan kembali ke laut. Jika beruntung anda bisa melihat dan ikut melepaskan penyu.

Flying fox di Pantai Taman, Pacitan
Flying fox dengan jalur terpanjang di Indonesia ada di pantai Taman, Pacitan .Foto: @erviandyugianata

Adrenalin anda mungkin akan terpacu meluncur sejauh hampir setengah kilometer (tepatnya 415 meter) dari tebing sebelah barat setinggi 74 meter dengan kecepatan meluncur 50 Km/jam, waktu ditempuh rata-rata 30 detik. Bagi anda yang mempunyai berat badan berlebih, tidak usah khawatir. Alat yang digunakan aman dan kuat, mampu menahan beban hingga 2,5 ton.

Pantai Pidakan

Masih mengikuti panduan ini? Maka kemungkinan anda tiba di pantai ini saat siang hari, Kala erik dan panasnya matahari. Pohon-pohon kelapa nan banyak juga tinggi-tinggi cukup untuk menghalau dan menaungi anda. Tak perlu kuatir gosong.

Bagi yang sering ke pantai dengan dasar pasir, anda akan menemukan hal baru di pantai Pidakan yang dasar pantainya berupa batu berukuran 15cm an didominasi warna putih. Apik wis!

Pantai Pidakan, Pacitan
Dasar pantai berupa batu krakal bulat adalah salah satu keunikan dari pantai Pidakan, Pacitan

Berlokasi di desa Jetak kecamatan Tulakan, di sebelah barat dari pantai Soge. Garis pantainya pun relatif datar dan panjang, dipadu dengan rindang pohon di sekitarnya membuat pantai ini terlihat masih alami.

Warung Makan Bu Gandhos

Berwisata ke daerah pesisir kurang afdhol rasanya kalau tidak mencicip makanan dari hasil lautnya.

Nah, untuk makan siang saya sarankan mencoba masakan kuliner laut di dekat pelabuhan dan tempat pelelangan ikan Pacitan.

Menu makanan di warung makan Sari Laut bu Gandos, Pacitan
Menu makanan di warung makan Sari Laut bu Gandos, Pacitan. Foto: Tripadvisor

Dari lokasi sebelumnya anda membutuhkan waktu perjalanan sekitar 1 jam lebih 15 menit, menempuh jarak sekitar 27 Km. Lumayan lama, tapi anda akan terpuaskan dengan hidangan ikan segar dari perairan laut Pacitan. Pesanlah nasi thiwul dan sambel bawang sebagai pelengkapnya serta es kelapa muda. Maknyus top markotop

Pemandangan dari warung makan bu Gandhos juga tak kalah memanjakan mata, sambil menyantap makanan anda bisa melihat teluk Pacitan dari sini serta kesibukan nelayan di pelabuhan.

Monumen Cinta

Selanjutnya mengunjungi sebuah kuburan bernama Monumen Cinta. Ada sebuah kuburan tepatnya Mausoleum bernuansa Eropa di kompleks pemakaman Kucur desa Sidoarjo kecamatan Pacitan. Entah kenapa ketika saya mencari lokasi tersebut di Google Maps kok bernama Monumen Cinta.

Monumen cinta pacitan
Mausoleum bergaya Eropa di kompleks pemakaman Kucur desa Sidoarjo kecamatan Pacitan

Ternyata ada sebuah cerita tentang kisah percintaan dari almarhum yang bersemayam di kuburan tersebut. Dia adalah Djamiyah, seorang gadis Jawa yang menurut sumber dan cerita orang lokal bersuamikan (masih dugaan) tuan tanah dari Belanda yang bekerja di sekitaran Madiun pada masa kolonialisme.

Si suami membuatkan kuburan khusus, serta di makam tersebut dituliskan puisi cinta untuk almarhum menggunakan sandi Vigenere Klasik yang diperkirakan digunakan pertama kali oleh Julius Caesar dan cukup populer pada awal abad ke 19.

sandi Vigenere Klasik di Monumen Cinta, Pacitan
Sandi Vigenere Klasik tertulis di makam Djamiyah.

Banyak misteri yang belum tersingkap dari makam ini, terutama tentang siapa suami dari almarhum Djamiyah yang bersemayam di makam tersebut. Selengkapnya anda bisa baca cerita tersebut disini.

Pancer Door

Merupakan bagian dari teluk Pacitan di bagian sisi timur dekat dengan muara sungai Grindulu. Lokasi melihat sunset favorit saya ketika pulang kampung. Berada di selatan pusat kota sekitar 6 Kilometer, dari lokasi sebelumnya sekitar 15 menit.

Dari sini tidak akan terlihat matahari tenggelam di laut, melainkan di bukit sebelah barat yang seperti membentengi kota Pacitan. Tapi suasana dan pemandangannya tak kalah deh dari tempat sunset populer yang lain.

Seorang peselancar yang akan memulai bermain ombak di pancer Door, Pacitan.

Bagi wisatawan manca negara khususnya peselancar, Pancer Door cukup dikenal dan anda bisa melihat peselancar dari luar dan dalam negeri "mengendarai" ombak dengan papan selancarnya.

Setiap sore hari, pasti akan ramai dengan pengunjung, khususnya warga lokal untuk sekedar jalan-jalan bersama keluarga, mengantar anak bermain di pantai, pacaran atau ngopi di warung terdekat.

Event surfing skala nasional bahkan internasional cukup sering dihelat disini, contohnya Hello Pacitan pada Agustus 2016 merupakan rangkaian dari kompetisi berskala internasional pada kontes tahapan kelima dalam Asian Surfing Championships (ASC) 2016 untuk grade 2 divisi pria dan grade 1 divisi wanita. Surfer-surfer terbaik di Asia bersaing menjadi yang terbaik di salah satu spotsurfing terbaik di Jawa Timur itu.

Makan dan Menikmati Malam

Silahkan kembali ke penginapan untuk mandi dan ganti baju, lalu saatnya makan malam dan nongkrong menikmati malam di kabupaten paling barat Jawa Timur ini. Menu untuk malam saya sarankan untuk mencoba Sego Gobyos di dekat perempatan penceng. Ini cocok bagi anda yang doyan dengan makanan pedas. Babat, usus, daging ayam, ikan laut, telur semuanya dengan kuah santan ditambah kuah sambal pedas akan membuat malam anda kemringet bin gobyos. Huhaah!

Untuk harga satu porsi di warung Sego Gobyos tergolong terjangkau, mulai dari Rp7.000/porsi hingga Rp15.000/porsi.

Kalau tidak cocok dengan makanan pedas anda bisa mencoba warung dengan makanan khas nasi urap, kikil, dan soto khas Pacitan di Warung Makan Sugiati yang terletak di jalan Pacitan-Tulakan desa Menadi kecamatan Pacitan.

Usai makan, jika anda pecinta kopi single originan bisa mencoba ke kedai Mik Kopi 10 menit dari terminal bus Pacitan. Kopi dari daerah-daerah Nusantara juga kopi lokal dengan harga yang sangat terjangkau bisa anda nikmati. Secangkir kopi tubruk dibandrol dengan harga 9.000 rupiah.

Suka dengan keramaian, monggo ke alun-alun Pacitan. Berjejer puluhan kaki lima bisa anda coba untuk menghabiskan malam. Saya sarankan untuk mencoba Warung Tanlun mbah Geger dengan menu andalan jadah bakar di adu dengan gula pasir atau tahu bakar dengan sambel kecap.

***


Selesai sudah daftar lokasi-lokasi wisata di Pacitan dalam satu hari. Sekali lagi saya tuliskan ini adalah trip ugal-ugalan! Tapi ya ndak apa kalau ndelalah sampeyan ternyata ke Pacitan dan hanya punya satu hari yang bisa dimanfaatkan untuk dolan dengan mengunjungi banyak lokasi. Mungkin tulisan saya ini bisa dipraktekkan.

Berani coba? Segera rencakan untuk berlibur ke Pacitan. Selamat mencoba dan berlibur!Jangan lupa share ya...!!! :)


Cerita MOP Papua, Tertawa Sampe Bodo


Pace sedang berkunjung ke kota Jayapura, mengunjungi dong pu anak yang sudah lama menetap disana.

Tiba di pelabuhan, pace disambut anak beserta menantu dan cucunya. Langsung diajaklah pace berkeliling kota naik OTO (mobil atau kendaraan sejenis). Pace terpukau melihat gedung, kendaraan lalu-lalang, pusat perbelanjaan dan semua hal yang tidak ada di kampungnya.

“Tuhangalaa, Jayapura memaaang. Rumah-rumah besar baru tinggi e, itu dorang keluarga besarka?”

“Itu bukan rumah pace, itu Mall. Tempat dorang baku jual-beli”

OTO yang dikendarai melewati sebuah polisi tidur. Karena asyik mengobrol, sopir lupa melambatkan laju kendaraan sehingga seluruh penumpang terpental ke atas. Terutama pace yang heran dan kaget dengan kejadian itu.

“Jjjiii…. kenapa e? ko lindas sesuatu ka?”

“Aaahh, itu polisi tidur saja, trapapa”

“Jjjiiii, kenapa tidur di jalan? Eh anak, kasih bangun sudah mungkin dia mabo”.

 * * *
Salah satu dari sekian banyak cerita lucu khususnya yang masih bisa saya ingat ketika berkunjung ke Papua, tepatnya saat berkumpul bersama masyarakat lokal. Berbagi cerita atau kejadian-kejadian lucu di kalangan masyarakat Maluku, Papua dan sekitarnya biasa disebut mop.

Menunggu MOP Papua di Podena, Kabupaten Sarmi Papua
Siap tertawa oleh MOP Papua ketika berkumpul bersama warga di distrik Podena, Kabupaten Sarmi

Singkat cerita di tahun 2015 akhirnya saya bisa menjejakkan kaki di bumi Cendrewasih itu, dalam rangka mengikuti sebuah penelitian dari salah satu lembaga negara. Dalam kegiatan tersebut, masyarakat lokal sering dilibatkan sebagai penunjuk jalan, tenaga lokal bahkan penyemangat dengan humor-humor khasnya.

Walau berperangai seram, tapi sejatinya mereka adalah orang berkarakter periang dan lugu. Tak ayal memang banyak peristiwa dari keluguan orang Papua yang berbuah menjadi mop, seperti kisah di awal tulisan ini.

Pandangan saya pastilah objektif dari kunjungan hanya di daerah pesisir saja. Saya tidak berani berpandangan tentang masyarakat di pegunungan, walau sudah banyak cerita tentang kehidupan dan karakter masyarakatnya.

Di tahun 2017, sangat bersyukur karena bisa menjejakkan kaki lagi di pulau tersebut namun beda provinsi yaitu Papua Barat.

Saya kesana masih dalam hal yang sama dengan 2 tahun sebelumnya. Sebelum pergi ke lapangan, ada kegiatan kelas yang harus diikuti. Kelas tak pernah sepi dengan hiburan dari kawan-kawan Papua Barat untuk maju dan menceritakan Mop.

Berikut satu moment yang sempat saya rekam:


* * *
Ada sebuah kisah tentang keluguan orang Wamena yang baru saja membeli OTO atau mobil. Saking senangnya ia ajak kawannya untuk mencoba kendaraan tersebut.

Keasyikannya tersebut selesai ketika mobil kehabisan bahan bakar lalu berhenti. Pace yang punya mobil berujar kepada kawannya.

"Kawan, mari tong balik jalan ke rumah e. Ini mobil selesai sudah, pabrik hanya membuat sampai sini saja" Lalu mereka pun berjalan pulang.

Saya kurang tahu pasti, kisah tersebut hanya karangan atau nyata.Masyarakat pesisir memandang salah satunya orang Wamena, adalah orang Papua paling lugu. Saya tidak bermaksud rasis sama sekali, hanya bersyukur betapa beranekaragam dan uniknya negeri ini. Tidak hanya biodiversitasnya saja.

Mari lanjut ke cerita selanjutnya.
* * * 

MAKANAN ITU BERKAH

Silas baru saja pulang dari sekolah siang hari dan terlihat lesu karena lapar. Langsung ia menuju dapur mencari mamanya.

“Mama sa lapar e”

“Hei anak, ko ganti baju cuci tangan baru ko makan!”

“Baik mama” Langsung Silas bergegas mengikuti perintah mama, begitu selesai ia langsung kembali menuju dapur.

“Mama ada masak apa e?”

“Pace belum kasih mama uang, jadi ko makan seadanya dolo. Itu makanan mama taruh di meja makan!”

“Adoh mama, sayur daun papaya lagi!?”

“Eeehh anak jang ko mengeluh pada makanan, tidak baik. Bersyukur baru.”

“Tapi mama, tadi malam sayur daun papaya kemarin juga. Sa bosan”

“Cukimai, anak kurang ajar!!! Makan sudah!!! Ada makanan itu berkah!”

“Ah mama, trada berkah yang pahit”

* * *
Toleransi antar umat beragama sangat baik. Contohnya jika ada hari raya Natal, teman atau kerabat yang beragama lain akan di undang untuk hadir dengan jamuan yang disesuaikan. Begitu sebaliknya jika umat muslim merayakan hari raya Idhul Fitri, teman dan kerabat yang beragama nasrani atau lainnya akan datang berkunjung saling maaf memaafkan, serta makan bersama menu lebaran.

Ada suatu kisah tentang bapak pendeta dan bapak haji di suatu kampung. Mereka sedang berjalan pulang bersama seusai menghadiri rapat desa.

Rumah mereka satu arah yang sama dan harus menyeberang sebuah kali yang kedalamannya se-perut orang dewasa. Kebetulan jembatan sedang rusak dan mau tak mau mereka harus berbasah-basah melintas kali.

“Bapa, sa gendong sudah e”

“Ah tidak pak haji, sa saja yang gendong. Mari!”

“Eeee… Sa masih muda bapa, mari sudah!

“Sebentar pak haji, bukan masalah tong muda atau tua”

“Baru???”

“Apa kata dorang di kampung nanti, trada ceritanya Pendeta Naik Haji”.

* * *

Beberapa guyonannya terdengar cerdas, dan kadang malah membuat bingung jika kita tidak mengerti dialektiknya. Seperti kisah di bawah ini.

Tiba di rumah anaknya, tete (panggilan untuk kakek) bercengkerama dengan cucunya. Su lama pace tra bertemu jadi melepas kangen sambil bercerita di teras rumah.

“Tete, sa pijit kaki tete boleh? Pasti Tete capek to”

“Tuhaaaree, cucu tete baik sekali ee.”

“Kata pace, dulu tete sering merantau ka?”

“Iyo, itu sudah”

“Baru, tete pu kaki ini sudah injak tanah mana?”

“Adoooh, banyak”

“Sumatera sudah ka?”

“Sumatera tete su injak”

“Jawa?”

“Ah itu sering”

“Baru, Bali?”

“Bali sudah”

“Kalimantan?”

“Adooh, ko cerewet memang. Kalimantan juga sudah, Sulawesi, Ambon, sampeeee Flores sudah tete injak.”

“Baru yang belum pernah tete injak?”

“Yang tete belum pernah injak, batang ko pu leher!!!”


Orang Papua sering menyingkat kata dalam percakapannya sehari-hari. Contohnya, saya menjadi sa, coba menjadi co, emang penting menjadi epen, cukup penting toh menjadi cupen, hingga kalimat yang panjang pun juga disingkat.

Ada sebuah kisah tentang pace yang kebun lemon miliknya sering kecurian. Padahal pagar sudah mengelilingi kebun lemon tersebut. Hingga saat panen berikutnya, lemon miliknya masih saja dicuri orang.

Pace pun naik pitam lalu ia membuat papan peringatan untuk mencegah para pencuri masuk. Ia mencari papan di sekitar kebun, akhirnya ia hanya mendapatkan papan dengan panjang 60 cm dan lebar sekitar 30 cm.

Pace memasang papan tersebut tergantung di pintu masuk kebun miliknya. Selesai terpasang, ada orang Jawa lewat dan menyapa pace yang masih terlihat marah.

"Selamat sore pace, sedang buat apaka?"

"Sore mas, sa baru selesai pasang papan peringatan buat dorang pencuri cukimai"

"Ooohh, tapi pace tulis apa itu?"

"Ah itu, gara-gara sa bisa dapat papan pendek memang. Sa tulis singkat padat dan jelas DILAPETELEPETELELEPU"

"Artinya apa pace?"

"Ah itu dorang pasti tahu mas, artinya DILARANG PETIK LEMON, PETIK LEMON LEHER PUTUS!"

* * *
Susah sekali untuk mengubah mop menjadi sebuah tulisan. Mop akan 'pecah' ketika dibawakan langsung oleh orang Papua sendiri dengan logat, aksen, emosi, gerak tubuh  dan suasana mendukung lainnya.

Jangan lewatkan kesempatan anda untuk berkumpul dengan masyarakat lokal saat berkunjung ke Maluku, Papua dan sekitarnya. Cobalah untuk membawa sirih pinang, "cemilan" khas yang umumnya disukai. Anda akan cepat diterima dan segera mendengar orang-orang saling bertukar Mop yang bisa membuat tertawa sampeeeee bodo'.

Contact Form

Name

Email *

Message *