Puyuh gonggong Biasa si Primadona dari Timur Jawa!

Leave a Comment
Akhirnya setelah sekian lama, salah satu burung idaman yang hanya bisa ditemui di pulau Jawa berhasil saya lihat dengan sangat jelas.

Bahkan berhasil mendapatkan foto dan videonya.

Sekitar 39 jenis jumlah burung endemik di Jawa dan satu burung ini sangat spesial.

Dia hanya bisa ditemui di daerah hutan pegunungan Jawa bagian timur, mulai dari Hyang hingga Ijen.

Sebelumnya saya sudah pernah bertemu dengan jenis ini, namun saya malah mlongo saking seneng dan excited melihatnya.


Padahal kamera sudah ditangan.

Waktu perjumpaan yang pertama, saya mencarinya di dalam hutan tanpa pengetahuan dan persiapan yang matang.

Belum tahu kebiasaan, lokasi mencari makan, jarak aman melihat dan lain sebagainya.

White-faced Partridge Grey-breasted Partridge Arborophila orientalis
3 dari 7 ekor Puyuh-gonggong biasa yang berhasil saya dokumentasikan. Dok. Pribadi.

Beberapa hari yang lalu saya coba mengulangi kembali kesempatan saya untuk memotretnya lagi.

Kali ini kondisinya berbeda.

Walau masih dimusim penghujan, kami tetap berangkat.

Ada teman yang fokus membuat tenda kamuflase untuk mendokumentasikan spesies ini dan kondisinya sudah sangat aman bagi burung maupun manusianya.

Tenda ini ditujukan untuk menarik wisatawan pengamat burung dari luar negri pada khususnya jika ingin melihat burung ini yang tidak bisa dijumpai di negara manapun kecuali di Jawa Timur, Indonesia.

Tentang Puyuh-gonggong Biasa

Seperti judul artikel ini, Puyuh-gonggong Biasa adalah nama si primadona ini.

Dalam bahasa inggris burung ini dikenal dengan White-faced Partridge, Grey-breasted Partridge, Grey-breasted Hill-partridge, dan Horsfield's Hill-partridge.

Merujuk pada warna bulu pada muka berwarna putih dan dada abu-abu yang menjadi penciri utamanya.

Memiliki nama ilmiah Arborophila orientalis yang berasal dari bahasa latin yaitu Arboris: tree / pohon, Philos: lover / pecinta, dan Orientalis: east / timur.

Secara serampangan adalah burung pecinta pohon dari timur.

Nama ilmiah yang tersemat cocok dengan kebiasaannya yang suka mengais-ngais pohon tumbang, seresah daun, dan tanah untuk mencari makan serta hanya bisa dijumpai di bagian timur Jawa.

Dahulu kala, Puyuh-gonggong ini bersama 3 lainnya dianggap ras atau sub-spesies dari Grey-breasted Hill-partridge Arborophila orientalis (selanjutnya disingkat A.o.).

Total 4 ras antara lain:
  1. A. o. campbelli (Robinson, 1904) - pegunungan di semenajung Malaysia.
  2. A. o. rolli (Rothschild, 1909) - pegunungan Batak, Sumatera bagian utara.
  3. A. o. sumatrana (Ogilvie Grant, 1891) - pegunungan di Sumatera bagain tengah.
  4. A. o. orientalis (Horsfield, 1821) - pegunungan di Jawa bagian timur.
Lalu di bulan September 2014 keempat anak jenis tersebut dipisah menjadi 4 full-species.

Penyebab 4 ras tersebut dipisahkan adalah perbedaan morfologi pada corak bulu wajah-tengorokan-dada-perut serta penyebaran lokasinya.

Ohya, siapa sih nama dan arti tahun yang ada di dalam kurung setelah nama ilmiah?

Robinson, Rothschild, Ogilvie Grant, dan Horsfield adalah nama pendeskripsi dari masing-masing  jenis atau anak-jenis ke dalam sebuah jurnal ilmiah yang diterbitkan untuk menyatakan penemuan pertama di dunia.

Sebagai catatan, bukan berarti pendeskripsi tersebut yang pertama kali menemukannya di alam. Tapi bisa saja mereka mendeskripsikan awetan yang dikirim ke museum atau membeli dari pedagang awetan hewan.

Tahun di belakang nama mereka adalah tahun diterbitkannya jurnal ilmiah terkait.

Dari keempat ras yang sekarang sudah terpisah, nomor empat adalah yang tertua atau pertama kali ditemukan dan dideskripsikan ke hadapan dunia.

Deskripsi dan Morfologi Puyuh-gonggong Biasa

Dari pengamatan terlihat berukuran sedang (28 cm) bentuk tubuh bulat, paruh pendek berwarna hitam, kaki pendek warna merah dan ekor pendek warna hitam.

Detail warna bulu: di bagian kepala mahkota hingga tengkuk kehitaman, lalu muka, alis, pipi hingga tenggorokan berwarna putih.

Garis kehitaman dari pangkal paruh lalu melebar di sekitar mata hingga sisi leher.

Puyuh Gonggong Biasa White-faced Partridge Grey-breasted Partridge
Puyuh-gonggong Biasa dewasa atau White-face Partridge Arborophila orientalis. Dok. Pribadi.

Bulu dada berwarna abu-abu kecoklatan berbintik gelap, sisi perut pola garis hitam-putih selang-seling dipinggir sisi perut berwarna coklat atau merah karat.

Penutup ekor bagian atas putih dengan pangkal warna hitam hingga ujung ekor.

Bulu tubuh bagian atas berwarna coklat kusam kehitaman, pinggir sayap dalam berwarna coklat karat lalu berganti di tengah dengan abu-abu gelap hingga pangkal sayap.

Jenis monotypic atau bisa dikatakan tidak ada perbedaan yang jelas / kontras antara jantan dengan betinanya.

Tapi teman saya memberi tahu bahwa dalam satu rombongan (6-12 ekor) ada satu yang berbeda dan ia yakini sebagai jantan.

Cirinya adalah dibagian kepala, warna bulu hitam lebih banyak.

Menurut literatur, betina memiliki warna bulu kepala hitam yang lebih kusam dengan ukuran tubuh lebih kecil dan warna kaki serta kulit sekitar mata lebih pucat.

Kebetulan kami tidak bertemu anakan atau remaja burung ini, namun ada sumber mengatakan bahwa burung remaja memiliki garis-garis panjang pucat, di tubuh bagian bawah lebih kecoklat-karatan dengan garis batas pada dada.

Suara Puyuh-gonggong Biasa

Penamaan dalam bahasa Indonesia mengacu pada suaranya yang seolah-olah menggonggong.

Saat di hutan, suara yang paling terdengar adalah seri "kuk-kuk" yang diulang mulai dengan volume rendah lalu semakin tinggi hingga akhir, berdurasi sekitar 20-30 detik.

Ketika satu ekor bersuara biasanya akan disahut oleh lainnya dan akan menjadi duet yang riuh di heningnya hutan.

Suara sahutannya kurang lebih seperti seri "wee-huu" yang berulang-ulang.

Variasi lainnya, adalah serangkaian peluit gemetar yang merdu "whrrreuw" kadang-kadang dinyanyikan sebelum dimulainya duet.

Kalau tidak seksama, suara mirip dengan Puyuh-gonggong Jawa Arborophila javanica yang sam-sama menghuni pulau Jawa.

Status konservasinya menurut IUCN-redlist dikatakan burung yang vulnerable (VU) atau rentan terancam punah.

Diperkirakan hanya ada sekitar 10.000 - 19.999 individu dewasa di alam liar.

Tren populasi yang diketahui saat ini mengenai jenis ini terus menurun akibat tekanan perburuan liar dan alih fungsi lahan habitatnya.

Sedang informasi terkait perkembang biakkannya masih belum banyak diketahui.

Hal ini masih membuka kesempatan untuk terus melakukan riset atau penelitian agar ada pengetahuan baru untuk mendukung kebijakan dalam pelestarian burung spesial ini di alam liar.

Akhirnya...

Hingga sore jam 16.30 WIB kami sudahi pengamatan hari itu, berkemas dan pulang dengan riang gembira.

Semoga Puyuh-gonggong Biasa si Primadona dari Timur Jawa ini dapat hidup lestari dan tidak punah di alam liar.

Sumber:
https://www.hbw.com/
https://www.iucnredlist.org/

Related Article

0 Komentar:

Post a Comment

Contact Form

Name

Email *

Message *